Maut Menjemputku Di Tangan Gerombolan

“akhi segera tukar tempatnya” perintah Abdullah kepadaku. bergegas aku segera pindah tempat.
“akhi, ana minta antum bertahan disini apapun yang terjadi. Pertahankanlah dirimu, ana hanya bisa membekali ini” abdullah menepuk bahuku dan dari tangan kananya menyodorkan sebuah pistol. “siap ustadz!” jawabku dengan pasti. Pistol itu segera aku sembunyikan di balik bajuku. Semua file dan email yang aku tampilkan segera aku hapus. Lantas aku diam menunggu sesuatu yang akan terjadi. Siaga satu, ku pancangkan niat dalam hati dan bibirku mendesir lantunan dzikir “Allohuakbar..Allohuakbar..” kupandangi ruang computer di pojok dekat tangga, kulihat ustadz abdullah, dia memandangiku, sorot matanya tajam melihatku seakan menguatkanku agar terus semangat dalam perjungan ini. aku anggukan kepalaku sebagai tanda aku sudah siap segalanya.

Tak berapa lama. Kundengar suara gaduh dilantai bawah dan semakin mendekat kelantai atas dimana aku dan ustadz abdullah berada.
“bismillahi allohuakbar” kulantunkan dzikir. Segera kuraih pistol yang kusimpan dibalik baju. Darahku semakin mendesir kencang dekup jantung berdekup cepat. Nafasku tak beraturan. Bingung apa yang harus kulakukan. Bibir ini terus mendesir melantukan takbir “allohuakbar..allohuakbar..allohuakabr..!” ketika dalam kebimbangan terngiang tausiyah shubuh terakhir dari ustadz abdullah.

*****
Semalaman kami berlima aku, ustadz abdulah, akhi rahmat, akhi agus dan akhi ibrohim, berkumpul dirumah ustadz abdullah untuk membicarakan rencana kedepan.

“saat ini kita sudah tercium, dan tindak tanduk kita sudah diawasi. Untuk itu ana mohon semuanya membakar habis file-file dokumen dan diantara kalian jika berpergian harus didimpingi dengan yang lain. Biar ana dengan akhi badrus saja dan kalian bertiga harus selalu bersama. Ingat SIAGA SATU” perintah ustadz abdullah kepada kami.

‘malam ini kalian bermalam disini saja. Kalian tidak usah kemana-mana nanti pagi baru kalian boleh meninggalkan rumah ini. Ana khawatir diantara kalian ada yang diculik” saran ustadz abdullah
“iya ustadz,kami bermalam disini saja” jawabku
“ba’da berjamaah shalat shubuh, nanti kita kumpul lagi”
“insya alloh ustadz”jawab agus dambil membaringkan tubuhnya kelantai

*****
“akhi, sesungguhnya mereka itu tidaklah lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawanya. Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka. Tetapi takutlah kepada Alloh. Perlu kita ingat dan sadari perjuangan kita adalah Menegakan islam dan Negara islam, dialah visi, dialah misi dan dialah obsesi. Hanya maut yang kemudian menjadi alasan logis bagi kita untuk berhenti berjuang. Apa yang kita lakukan tentunya tak sebanding dengan semangat anak muda sperti bilal, umar, mus’ab, thallah dan yang lainnya. Keinginan dan harapan untuk berjumpa dengan Allah itu yang kemudian membuat mereka tetap bertahan. Maka luruskan kembali niat kita, perbaharui komitmen dan ghiroh kita, sampai kemudian maut menjeput, kita tetap berada di jalan-Nya. Sungguh cita-cita terbesar kita adalah bisa melihat Alloh dan menggapai Jannah-nya”
nasihat ustad abdullah itu terngiang dalam benaku.

“allohuakabar..alhuakbar..alohuakbar” dizikirku dalam hati

Suara gaduh mulai mendekat terdengar teriakan dari mereka “keluar semua ada teroris disini. Cepat..cepat keluar”

Baru hendak berdiri segerombolan orang mengarahkan senjata laras panjangny kepadaku, “angkat tangan , diam ditempat” perintah salah seorang diantara gerombolan itu. Mreka menyebut aku teroris maka aku menyebut mereka adalah gerombolan karena hanya berani bergerombol dan hanya mampu menyerang dari jauh. Tak peliknya manusia licik karena mereka ragu dengan tugasnya akhirnya menjadi pemangsa yang tak berbudi. Tak mau mengorbankan dirinya karena dalam dirinya bergelut keraguan tentang kebenaran.

Lantas kuberdiri dan mengangkat kedua tanganku. Namun mereka tidak ada yang mau mendekat.

“lemparkan senjata nya” perintah mereka

perlahanku kutrunkan kembali tanganku untuk mengambil aba-aba meleparkan sejata

“Door..”letupan senjata

Terasa nyeri didadaku, senjata yang kupegang terjatuh.

“Door..door..”berkali kali letupan senjata berbunyi

Tubuhku terlempar dan abruk.

Dan………………..

"inspirasi pagi 6/4/2010"
Share on Google Plus

About fasya elsyahid