MUI Kecam Pencabutan Perda Miras

Keputusan Mendagri mengevaluasi sejumlah perda Miras di berbagai daerah mengundang kecaman dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurut MUI, keputusan itu akan membawa dampak buruk bagi masyarakat.

"Kita sangat kecewa dengan pencabutan perda pelarangan minuman keras. Kebijakan tersebut tidak sesuai dengan tujuan positif yang hendak dicapai dalam kehidupan bermasyarakat," kata koordinator harian MUI, KH. Ma'ruf Amin, Selasa (10/1).

Beliau menilai kebijakan tersebut bersifat kontraproduktif dengan inspirasi masyarakat. Dia mengatakan, saat ini kebanyakan masyarakat justru menginginkan pelarangan miras. Namun, inspirasi ini justru tidak direspon pemerintah. Pelarangan ini tidak hanya berasal dari daerah mayoritas muslim, tapi juga yang minoritas. Kyai Ma'fur mencontohkan Manokwari sebagai salah satunya.

Minuman beralkohol ini, kata dia, bisa merusak perkembangan jasmani dan rohani para konsumennya. Padahal, jasmani dan rohani menentukan karakter dan kualitas seseorang. Jika dua hal ini rusak, lanjutnya, bisa dipastikan para pemuda tidak mampu membangun daerahnya. Sehingga kemajuan pembangunan daerah terhambat.

Menurut Ma'ruf, pelarangan miras akan berdampak baik bila diterapkan di seluruh Indonesia. "Untuk daerah yang sudah menjadikan miras sebagai budaya, hal ini tidak bisa diterapkan begitu saja. Lagipula hal ini terkait dengan regulasi. Namun juga tidak bisa diartikan miras boleh beredar di seluruh Indonesia," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua MUI, KH. Amidhan. “Pencabutan Perda ini mendegradasi moral masyuarakat. Masalah ini akan dibawa ke Majelis Fatwa MUI,” tegasnya kemarin di Kantornya.

Sebelumnya, Perda tentang minuman keras di sejumlah daerah, seperti di Bandung, Indramayu dan Tangerang, dicabut oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Amidhan mengecam langkah sang menteri.

Menurut KH. Amidhan, pencabutan Perda minuman keras akan menguntungkan perusahaan minuman beralkohol dan tempat hiburan serta juga hotel berbintang. (Pz/berbagai sumber)(eramuslim.com)
Share on Google Plus

About fasya elsyahid