Percakapan Tanpa Ekpresi

“Maaf, saya  ga bisa bertahan disini untuk terus berjuang bersama  kalian. Saya harus mengejar target hidup saya. Saya sudah tertinggal jauh dengan teman-teman seumuran saya”

“sebenarnya target apa yang kamu capai, lim? Kuliah ? kerja ? atau apa?”

“bukan maksud saya ingin berhenti berjuang dengan kalian untuk membesarkan  dan mewujudkan cita-cita organisasi.  Setidaknya saya memberi kesempatan kepada orang yang lebih muda. Kalian kan tau disini saya paling tua dengan segala keterbatasan, tidak kuliah, tidak kerja, dan tidak mampu melakukan apa-apa. Dari pada saya menjadi parasit dan membebani kepengurusan lebih baik saya mengundurkan diri dari kepengurusan”

“tapi Lim, itu bisa kamu lakukan sekarang juga, kamu mau kuliah dimana ? kamu mau kerja apa ? atau mau bisnis apa gtuh ? nanti kita bantu cari solusi bersama.  Kamu kan bisa kuliah disini, atau kita cariin kerja buat kamu disini“

“maaf gus, sepertinya keputusan saya sudah bulat untuk mundur dari kepengurusan ini, saya lebih memilih pulang kampung, biarkan sya berproses dengan sendirinya,”

“gak gitu juga lim, kita sudah bertahun-tahun begini dan terus bersama bergerak dan berjuang bersama kenapa kamu harus meninggalkan kita, tinggal beberapa bulan lagi kok kita akan menyelesaikan ini semua. Setelah amanah ini selesai baru kita bahas bersama nasib kita kedepan mau sepeti apa. Gmn mau kan ya lim ?”

“gus, saya sudah tidak bisa foqus lagi untuk bergerak disini, dan ini menjadi beban bagi saya. Pikiran saya sudah jauh ada dikampung , disini saya seakan-akan menjadi mayat hidup,”

“ok lim, saya beri kamu  kesempatan tiga hari untuk berpikir ulang”.Tegasnya
Share on Google Plus

About fasya elsyahid