Ini Bohong

Siapa yang suka dengan sebuah kebohongan?, dan tentu kita enggan menjadi orang yang tengah dibohongi. Apapun itu, jika kebohongan itu menimpa diri kita, dengan mengetahui kita telah dibohongi, tentu sakitlah hati ini.

Semua bisa hancur oleh suatu kebohongan. Bila berbohong kepada orang lain, musnahlah sudah tingkat kepercayaan orang lain tehadap diri kita. Entah itu sikap kita, perkataan kita, karya-karya kita akan selalu dianggap suatu modus kebohongan. Seperti dalam pribahasa, “Karena nila setitik, rusak setelaga”.

Sudah rahasia umum, bahwa virus kebohongan telah mewabah di negeri kita. Virus itu tengah menjakit  orang yang berada disekeliling kita, atau mungkin kita sendiri tengah terjakit virus tersebut. "Hidup dengan kebohongan-kebohongan".

Entah dari mana virus itu bermula. Sepertinya virus ini berawal dari diri sendiri, yang enggan mendengar suara hati nurani dan menolak ayat-ayat tuhan. Kebohongan itu bermula dari hilangnya rasa peduli. Ya, peduli akan diri sendiri agar senantiasa berada di jalan kebenaranNya.

Kita bisa tanyakan pada diri kita sendiri, sesuatu hal yang memang tidak sesuai hati nurani. Jika kebohongan dilakukan berulang-ulang, maka virus kebohongan akan bersemayam dalam diri,  akan menutup mata hati, sikap dan prilaku akan senantiasa akan dikendalikan oleh kebohongan. Jika melakukan Kebohongan yang pertama maka  akan timbul kebohongan berikutnya, dan akan terus menurus untuk berbohong.

Berbohong itu menyakitkan, karena akan mengubur hati nurani dan mematikan mata kebenaran. Berbohong itu resah gelisah, takut, jikalau ada kebahagian itu pun semu belaka.

Jika memang ragu, maka Berbohonglah..! rasakan semua rasa yang ada. Dan sepertinya Berbohong dan Jujur, memiliki rasa yang sama. Namun dalam kejujuran ada ketenangan, meski itu terasa perih, takut, gelisah, namun akhirnya ada ketenangan, yang berujung pada kesabaran dan keiklasan.

Rasanya sama, namun dampak yang ditimbulkan akan berbeda. Berbohonglah..! atau  Jujurlah…!
Share on Google Plus

About fasya elsyahid