Motivasi Pagi : Sejatinya Kita adalah Pendekar

392877_4024522219170_299849802_n"Ya bertekad, dengan tekad yang kuat semua bisa diraih, entah.... apapun itu, baik ataupun buruk. Mereka yang memiliki tekad kuat, merakalah para pendekar. " (sya)

Sya temukan tulisan dari blog tetangga, tulisannya tentang siapa itu pendekar. Menurut sya tulisan itu lumayan bagus, sebagai motivasi di pagi hari.

Sejatinya kita semua ini adalah pendekar. Pendekar dalam kehidupan. Seorang pendekar mengembara mengikuti langkah kakinya sendiri, tidak cemburu dengan langkah orang lain, menemukan berbagai tempat di dunia untuk memperdalam ilmu silatnya, ilmu silat jenis apapun yang diasahnya. Seorang pendekar adalah pemberani, tidak kenal takut, siapapun yang datang hendak mengadu ilmu, akan dilayaninya dengan sepenuh hati, tidak sebagai musuh, tetapi sebagai alat mengasah diri, tidak akan kalah dengan menyerah, tapi terus berusaha, walaupun harus mati dalam sebuah pertarungan, maka kematian itu adalah kemuliaan, karena ia mati dalam sebuah pertarungan.

Seorang pendekar, pintar namun juga bodoh, jantan namun juga konyol, serius tapi juga santai, tidak pernah tertipu dengan sebuah kondisi, semua yang terjadi hanyalah sebuah ‘kejadian’ saja, tidak lebih tidak kurang. Ia tidak akan menilai keadaan dengan susah atau sedih, karena semua itu keluar dari dirinya sendiri, kejadian hanya sebuah sebab akibat, tinggal kita yang memberi makna, menyenangkan atau menyulitkan.

Seorang pendekar tidak pernah berhenti melampaui batasnya sendiri,  Tiada hari yang dilaluinya dengan kekosongan, dia akan melatih dirinya dari bangun tidur, hingga ia tidur lagi. Seorang pendekar akan berlaku seperti air, tidak berbentuk, tidak berbatas, mengalir lembut tapi bertenaga, mengisi kekosongan suatu ruang.

Seorang pendekar hidupnya merdeka, tidak dikendalikan oleh kekuasaan, tidak akan menjadi kacung siapapun, tidak diperbudak manusia. Namun memiliki nurani yang murni dan bersih, baginya, orang yang tidak mampu menolong dirinyalah yang harus ditolong, ia siap berdiri bersama mereka yang lemah tanpa dibayar,  bukan berdiri dengan mereka yang lemah karena ingin disuarai dan disuarakan. Para pendekar akan terus berbuat dan berguna bagi siapapun, tidak ada yang perlu menghargai dan menyanjung mereka, karena seperti angin, setelah datang menyejukkan suatu tempat, kemudian pergi tanpa jejak.

Entah siapakah ia yang masih menjadi pendekar di zaman ini, di zaman para penghibur disebut ustadz, di zaman membaca kitab suci hanya menjadi lomba siapa lebih indah membacanya, atau lebih banyak menghapalnya, tanpa paham isinya. Di zaman kita dikelabui tontonan, di zaman uang menjadi Tuhan, dan disembah dengan segala pengorbanan, di zaman para elit menjadi penguasa, bukan menjadi pengayom. Di zaman budak-budak (pejabat) menindas tuannya (rakyat) di negeri yang katanya demokrasi ini.

Mungkin masih ada, ya pasti selalu ada mereka yang menjadi sebagian kecil dari sebagian yang lain, yang tetap berjuang, menjadi pendekar dengan segala ilmu yang mereka kuasai untuk memperbaiki segalanya, mereka yang tetap ikhlas berjuang hingga semua jurusnya habis, hingga tenaga tak bersisa, hingga tubuhnya rapuh dan habis, engkau pasti masih ada. Siapakah kau, Pendekar?

Sumber : http://gelarriksa.wordpress.com
Share on Google Plus

About fasya elsyahid