Hanya 1 Menit

Matahari tengah menampakan kegagahannya. Cahayanya begitu berani menyulusup jendela, terkadang aku harus mengerutkan dahi dan memejamkan mata, kornea mataku seakan tak sanggup menyerapnya.

“Pak, tutup aja gordennya ya” ucapku.

Ku dekati setiap pintu jendela, sesekali ku lihat keluar, Nampak pemandangan genteng dan atap beton rumah seluas mata memandang. Tanganku coba meraih kain berwarna hijau muda dan ku sibakan menutup ruang jendela. Kini mataku terasa ringan untuk melihat sekeliling ruangan. Tepat ditengah ruangan berdiri papan putih setinggi badanku.

“Bagaimana kita bisa mulai acaranya” ujar salah seorang didepanku, memecah keheningan.

Asing mereka di mataku, tak ada yang kukenal seorang pun disini, kecuali seorang bapak berjenggot tipis, yang duduk berada disampingku. Namanya sering aku dengar namun baru kali ini aku bertemu dengannya. Disebelah kanan bapak berjenggot itu duduk seorang lelaki muda yang sedang memainkan handphone nya, sepertinya dia sedang sibuk membalas pesan sms, setiap hp itu bergetar dia bergegas menekan-nekan tombol hp.

Sejajar disebelahnya, ada dua orang lelaki yang sedari tadi terus menatapku, seakan setiap gerak-gerikku diawasinya. Jika aku memandangnya, mereka langsung mengalihkan pandangan, seolah tidak terjadi apa-apa. Aku jadi kikuk dan salah tingkah dibuatnya. Punggungku segera ku tegakan, tarik nafas sedalam-dalamnya, berusaha untuk rileks dan santai.

Pertama kalinya aku berada dalam kondisi seperti ini, seorang diri ditengah orang-orang asing, hanya untuk menjalani proses penting dalam hidupku. Hatiku berasa campur aduk, tegang, was-was, senang, sedih semua menyatu. Dalam pikirku hanya ada satu yang terngiang. “Ya alloh berikanlah aku yang terbaik menurutmu”.

“Zulfikar, gimana sudah siap?” tanya lelaki gempal yang ada didepanku.

“Bismillah, saya sudah siap”

“Kalo begitu silakan kamu duduk menghadap papan hijab, waktunya hanya 1 menit ya”

“Upss.. hanya satu menit ? cukupkah waktu secepat itu untuk waktu yang lama” tanyaku dalam hati

“Yakinlah jika Alloh berkehendak, singkat ataupun lama waktu yang diberi, jika dia takdirku maka berbahagialah” gumamku menguatkan perasaan.

“saya hitung sampai tiga ya” dia memberi aba-aba. Dan aku masih duduk tegang menghadap papan hijab

“1… 2..3…!”

Papan putih itupun perlahan bergeser, semakin papan itu digeser semakin kencang dekup jantungku. Waktu pun seakan berjalan lambat, setiap gerakan seakan ikut melambat. Sedikit demi sedikit ruangan itu terlihat, mata ku seakan menjelajah mencari sosok, namun belum juga kulihat seorangpun didepanku. Ujung papan hijab perlahan bergeser dari pandanganku, ku coba kuatkan pandangan kedepan. Secercah jawaban, nampak sudah, dia berjilbab warna merah jambu. Semakin terbuka tirai pemisah itu semakin malu yang aku rasa.

Nampak sudah dia di depanku, jilbab pink nya mengalihkan perhatianku. kuberanikan diri untuk menatap wajah dan matanya. Kacamata yang terpasang di matanya seakan memberi kesan keanggunan dan kebijaksanaan.

“Assalamualaikum” ucap dia dengan senyum yang menawan

“Waalaikumsalam” Jawabku.

Kuangkat kedua telapak tanganku agar dia melihatnya, dia pun mengikutiku mengangkat tangannya dan mempelihatkan telapak tangannya. Aku pun berdiri dan berputar,dia pun ikut berdiri dan memutarkan badannya.

“Aa..inilah aku apada adanya”.

Belum sempat aku mengucapkan kata-kata, papan hijab pun bergeser dan kini hanya warna putih yang bisa ku lihat.

“Subhanalloh wal hamdulillah allohuakbar… astagfirulloh hal ‘adzim”

Dalam hatiku berdoa, semoga setan tidak ikut serta dalam pandanganku saat melihat dia.  Satu menit untuk menyatukan hati, satu menit untuk masa depan dunia dan akhirat. [Fasya El-Syahid]
Share on Google Plus

About fasya elsyahid