Menimbang Visi Misi Sang Capres 2014

Hiruk pikuk pemilu Capres - Cawapres RI 2014 begitu menggeliat. Gaungnya ramai sampai kepelosok negeri, lebih ramai lagi di dunia medsos, ramai orang membicarakan hal itu, entah sosoknya, partainya, konco2 nya dan juga visi dan misinya.

Sering kali kita terjebak oleh ramainya pemberitaan prihal sosok, dan hampir saja melupakan apa yang akan dibawa oleh para capres beserta timnya nanti kedepan, yaitu visi dan misi untuk indonesia kedepan.

Perlu kita memandang Visi dan Misi itu sendiri adalah sebuah komitmen dan janji serta pola gerak yang akan dilakukan oleh pemenang Capres nantinya. bukan sekedar retorika atau janji manis. kita mendukung nya berarti harus mendukung Visi dan Misi nya kelak. bukan karena sosoknya. tapi karena cita-cita yang ingin diraihnya,

kali ini sya coba memposting tulisan sahabat sya,  dia seorang kader Pelajar Islam Indonesia (PII) yang sedang diamanahkan menjadi Ketua Umum PB. PII. Tulisannya tentang Visi dan Misi para Capres-Cawapres RI 2014

Dia menulis di Notes facebooknya, dan sya copas tanpa sepengetahuan dan seijinnya:-) "sory ya bang Randi, tulisannya sya post di blog sya..peace..!

berikut tulisan Randi Muchariman (Link FB nya https://www.facebook.com/randi.muchariman ).

 

Menimbang Pemilu Presiden



17 Juni 2014 pukul 23:59



Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillah, Dialah Allah yang telah memberikan kepada manusia kekuatan untuk melihat kebenaran dan menimbang keadaan yang dihadapinya. Dialah yang telah mengutus RasulNya, Muhammad saw yang telah mengajarkan kepada manusia kebenaran dan hikmah serta akhlak menuju kepada keselamatan di dunia dan akhirat. Shalawat dan salam atas Muhammad saw, juga atas keluarga dan sahabatnya semua. Dialah Rasululullah saw yang telah menunjukan kepada manusia cara hidup yang teratur dan lurus sehingga dunia menjadi tertib dan di akhirat mendapat keselamatan.

Saya memohon pertolongan dan petunjuk kepada Allah swt dalam menjalani kehidupan di dunia ini.Dalam menjalani amanah yang dibebankan kepada saya, khususnya sebagai ketua umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia 2012 – 2015.Semoga Allah memberikan kebaikan dan berkah atas kepemimpinan saya untuk diri saya sendiri dan juga untuk PII yang telah berumur lebih dari 67 tahun ini. Semoga Allah senantiasa melindungi PII sebagai sebuah mata rantai perjuangan ummat dan alat perjuangan ummat yakni sebagai  organisasi untuk mengatur perjuangan ummat pada masa yang akan datang.

Sudah lebih dari sepekan ini saya berada pada suatu kondisi yang melelahkan dalam sebuah upaya untuk menimbang pilihan sikap yang terbaik bagi Pelajar Islam Indonesia dalam menghadapi proses pemilihan pasangan calon presiden dan wakil presiden Indonesia 2014 – 2019. Yang menjadi beban berat itu adalah untuk memastikan bahwa kepemimpinan itu bisa saya langsungkan secara adil untuk kepentingan kita semua.Bahwa PII sedang berupaya untuk menerapkan strategi jangka panjang hingga tahun 2028, dan tentunya setiap langkah yang sifatnya strategis itu harus benar – benar diputuskan dalam suatu tinjauan dan perhitungan yang matang.

Kita telah sama – sama mengetahui bahwa PII memiliki Khittah Perjuangan, Falsafah Gerakan, dan AD ART sebagai sebuah organisasi. Dan itu semua menjadi suatu takaran yang kita pergunakan dalam menghadapai pemilu pilpres yang tengah berlangsung ini.Yakni, pemilu pilpres yang menghadirkan dua pasangan calon sebagai pesertanya, prabowo-hatta di nomor urut 1 dan jokowi-jk di nomur urut 2.

Mengikuti Khittah Perjuangan PII, sebagai fungsinya sebagai koridor aktualisasi  (framework)  yang menjadi pedoman dalam merancang kebijakan-kebijakan, program kerja dan tindakan (sikap)  bagi seluruh eselon pimpinan, kader dan anggota Pelajar Islam Indonesia (PII) , dalam menyikapi keadaan ini saya melihat ada beberapa pokok yang harus kita perhatikan. Yakni sebagai berikut :

  1. Khittah Perjuangan Umum nomor 4.

  2. Khittah Perjuangan Umum nomor 5.

  3. Khittah Perjuangan Keluar nomor 2 (Garis Kebijakan terhadap Partai/Golongan Politik).

  4. Khittah Perjuangan Keluar nomor 3 (Garis Kebijakan terhadap Organisasi-organisasi Massa).


Tanpa bermaksud untuk meniadakan pertimbangan dari Khittah Perjuangan secara keseluruhan, empat pokok yang disebut di atas menurut saya adalah yang harus lebih kita perhatikan.Berikutnya, akan saya paparkan penjelasan dari setiap pokok tersebut dalam hubungannya dengan keadaan pilpres saat ini.

Khittah Perjuangan Umum nomor 4

Pelajar Islam Indonesia (PII) di dalam gerak dan kegiatannya lebih mempertebal lagi kepercayaan dan kesanggupan serta kemampuan pada diri sendiri dengan menyandarkan pertolongan pada Allah Swt.

Hai  orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu, dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad [47]: 7)

Mendengar dan membaca pendapat yang mengatakan bahwa masa pemilu pilpres ini adalah masa – masa yang tepat dan penting dalam rangka mencari keuntungan materil yang secara pragmatis bisa didapatkan dari proses hubungan politik, pokok ini menjadi penting. Bahwa setiap apa yang dilakukan dan menjadi sikap dari PII tidak dalam rangka menyandarkan pertolongan itu kepada selain Allah swt. Setiap sikap dan keputusan PII bukan suatu upaya apapun selain dalam rangka menolong agama Allah dan oleh sebab itu maka seluruh kepercayaan dan pengharapan kita adalah kepada pertolongan Allah swt.Bukan kepada makhluk atau yang sifatnya fana.Dan tidak layak bagi kita untuk menyandarkan diri kepada sesuatu yang  fana.

Penting saya sampaikan hal ini, agar kita menyadari dengan sebenar – benarnya bahwa masa pilpres ini bukanlah masanya dukung atau tidak mendukung yang hal itu dilakukan karena harapan adanya pertolongan dari suatu hubungan politik, yakni dari sesuatu yang fana.Singkatnya, bahwa segala apapun yang kita (PII) putuskan dalam menyikapi pilpres ini adalah untuk mendapatkan uang, kedudukan, dan pertolongan. Namun semua ini didasarkan atas suatu tanggung jawab yang telah kita terima sebelum kita menjadi manusia di muka bumi ini (al Araf : 172 , al Ahzab : 72).

Oleh karena itu, segala niat atau  prasangka dan pergerakan yang dijiwai atas pandangan dan kebergantungan kepada sesuatu yang fana adalah batil. Dan tepat apa yang dinasihatkan di dalam kitab al Hikam oleh syaikh Ibnu Athoilah rh bahwa :

Keinginan engkau untuk tajrid sedangkan Allah menetapkan engkau dalam sabab, merupakan syahwat tersembunyi.Keinginan engkau untuk berpegang dengan sebab sedangkan Allah tajrid engkau, merupakan kejatuhan daripada semangat yang tinggi.

Khittah Perjuangan Umum nomor 5

Pelajar Islam Indonesia (PII) akan menjalankan setiap usaha yang secara ideologis menguntungkan dan tidak segan-segan menghindari setiap langkah yang secara ideologis merugikan.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan oleh Allah, yaitu al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak berbicara dengan mereka pada hari kiamat, dan tidak mensucikannya dan bagi mereka adalah siksa yang amat pedih.”  (QS. Al Baqarah [2]: 174)

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya dia (syaitan) musuhmu yang nyata.” (QS. Al Baqarah [2]: 208)

Ideologi atau worldview atau weltanschauung berdasarkan dokumen dari Falsafah Gerakan dijelaskan maknanya dalam satu paragraph berikut :

Pelajar Islam Indonesia (PII) mendasarkan aktualisasi gerakannya di atas konstruksi kesadaran  berupa kerangka berfikir dan cara pandang dalam melihat dan menyikapi realitas kehidupan. Sebagai organisasi yang mempunyai komitmen ke-Islaman yang kuat, kerangka fikir dan cara pandang tersebut tentunya berupa pandangan dunia Islam (Islamic World View). Untuk mengetahui pandangan dunia Islam  tersebut dapat digunakan kerangka analisis filosofis yang meliputi hakikat  Islam tentang aspek-aspek ontologis dari realitas, kerangka epistemologis, serta implikasi aksiologisnya. Dengan kerangka ini akan didapatkan pemahaman tentang pandangan dunia Islam.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka sesungguhnya idiologi itu adalah salah satu rangkaian daripada amal manusia di dunia ini.Yakni, yang pertama itu adalah berupa niat, kemudian menjadi sebuah pemikiran, dan akhirnya menjadi sebuah perencanaan dan kegiatan lahiriyah.Apa yang nampak dalam pengalaman lahiriyah, merupakan gambaran dari keseluruhan niat dan pemikirannya.

Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada satupun daripada amal manusia itu yang tidak terkait dengan persoalan idiologi.Dan kemudian tidak sekalipun kita diperkenankan untuk memutuskan kecuali berdasarkan idiologi adalah benar.Maka, suatu pertimbangan yang berdasarkan idiologi itu adalah yang sah dan lebih kuat daripada hanya didasarkan atas karena kedekatan secara pribadi, kesamaan daerah atau suku atau kelompok dan seterusnya.

Dalam masa pilpres ini, pertimbangan dan satu pandangan yang berasaskan kepada idiologi adalah hal utama dan pertama dalam segala keputusan dan sikap yang akan diambil. Menghindarkan atau menutup mata dari hal itu adalah suatu pelanggaran atas ketentuan yang berlaku di dalam kehidupan ini. Bahwa, manusia akan beramal berdasarkan idiologi yang dipegang dan diyakininya.

Khittah Perjuangan Keluar nomor 2 (Garis Kebijakan terhadap Partai/Golongan Politik)

Bahwa Pelajar Islam Indonesia (PII) bersifat independen, tidak melibatkan diri pada partai politik dan politik praktis serta tidak menjadi bagian dari golongan atau organisasi politik manapun.

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh pada yang ma‟ruf dan mencegah dari yang munkar itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran [3]: 104)

Berdasarkan penjelasan Falsafah Gerakan PII, sifat independen tersebut dijelaskan sebagai berikut :

Independensi atau kemandirian, adalah ketakbergantungan terhadap orang atau pihak lain dalam hal pengambilan keputusan yang bersifat pribadi ataupun organisasi. Kemandirian tersebut dapat berupa ketakbergantungan atas substansial maupun material terkait dengan soal pengambilan keputusan tersebut. Independensi menunjuk pada kemampuan percaya diri terhadap diri individu kader dan kelembagaan, yang kuat sehingga tidak mudah terbawa dalam bingkai kepentingan orang atau pihak lain.

 

Dengan demikian, kemandirian disini bermakna dua hal:  pertama,  kemandirian organisasi. Artinya, PII tidak berada di bawah organisasi lain atau menjadi  underbouw  organisasi lain manapun. PII lahir dan berkembang dari kekuatan mandiri.Kedua, kemandirian kader-kader PII.Artinya, kader PII mampu menyelesaikan masalah-masalah organisasi di tingkat lokal, regional, maupun nasional berdasarkan kemampuan sendiri.Kalaupun terdapat bantuan dari pihak luar, harus bersifat komplementer (pendukung) semata.

Di dalam Anggaran Dasar PII pasal 3 dan 4 dijelaskan pula bahwa PII bukan organisasi politik dan tidak menjadi bagian dari golongan atau aliran organisasi politik manapun.Akan tetapi PII adalah organisasi gerakan dakwah di bidang pendidikan dan kebudayaan. Di dalam Anggaran Rumah Tangga PII dalam bab keanggotaan lebih dijelaskan kembali bahwa setiap anggota PII tidak diperbolehkan menjadi anggota partai politik dan atau organisasi afiliasinya.

Berdasarkan hal ini, maka kita melihat bahwa PII harus mandiri dalam kaitannya dengan hal hal yang bersifat politik.Pesan utama yang hendak disampaikan oleh pokok ini bukanlah penegasan bahwa PII harus apatis atau tidak peduli dan tidak melibatkan diri terhadap persoalan politik kebangsaan atau kenegaraan. Akan tetapi bahwa dalam setiap sikap yang terkait persoalan politik kebangsaan atau kenegaraan itu PII harus independen sehingga bisa memutuskan berdasarkan kebenaran sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dalam surat Ali Imron ayat 103.

Adapun penjelasan terkait politik praktis bukan berarti bahwa PII harus tidak terlibat dalam urusan politik apapun. Karena, sebagai sebuah organisasi massa atau disebut civil society dalam istilah Barat, atau sebagai sebuah gerakan dakwah, tentunya PII akan terlibat dengan urusan politik. Seperti pengajuan dan atau pembuatan undang – undang.Maka, penting bagi kita untuk mendudukan makna dari politik praktis yang dimaksud dalam pokok Khittah Perjuangan di atas.

Dalam konsep Islam, politik itu dimaknai sebagai siyasah.Siyasah dalam tradisi Islam adalah suatu lingkup yang kajiannya sangat luas terkait dengan segala usaha manusia agar bisa mengurus kehidupan di dunia sehingga menjadi tertib dan di akhirat menjadi selamat. Siyasah ini terkait dengan suatu urusan solidaritas sosial sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Khaldun di satu sisi, dan di sisi lainnya terkait dengan pengelolaan sebuah kota atau Negara dalam cakupan yang lebih luasnya. Kegiatan siyasah tersebut ada yang bersifat lahir maupun bersifat batin.Dalam istilah Barat itu disebut sebagai upaya struktural maupun kultural.Maka, dalam pengertian tersebut, sesungguhnya PII merupakan salah satu dari siyasah tersebut.

Dalam kajian ilmu politik, apa yang dilakukan oleh PII adalah politik dalam dimensi high politics. Yakni memastikan hal  hal yang sangat penting bagi keberlangsungan sebuah Negara hadir. Hal terpenting itu adalah terkait dengan idiologi dan pendidikan yang terkait dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu, maka pokok Khittah Perjuangan PII yang menyebutkan PII tidak terlibat dalam politik praktis tidak bermakna bahwa PII tidak boleh terlibat dalam politik. Akan tetapi berdasarkan seluruh pertimbangan di atas maka PII tidak boleh melibatkan diri dalam pertarungan atau proses politik yang hanya berorientasi kepada kekuasaan saja, dan tidak terlalu mempedulikan kebenaran ataupun aspek idiologi dalam proses tersebut. Yang dimaksud tidak terlalu mempedulikan kebenaran ataupun aspek idiologi ialah misalnya ketika terdapat dua pasangan calon bupati yang keduanya berasal dari partai Islam.Atau misalnya ketika pemilihan calon legislative yang menyertakan banyak sekali kader Islam sebagai pesertanya. Maka PII tidak terlibat dalam proses politik praktis dalam memenangkan salah satu calon. Akan tetapi PII tetap terlibat dalam sebuah high politics agar para pelajar mempergunakan hak pilihnya sesuai dengan kebenaran dan idiologi Islam.

Khittah Perjuangan Keluar nomor 3 (Garis Kebijakan terhadap Organisasi-organisasi Massa)

1.  Garis Kebijakan Terhadap Organisasi Islam

1.  Pelajar Islam Indonesia (PII) dalam setiap kebijakannya tidak apriori memihak salah satu atau beberapa organisasi Islam manapun juga, tetapi akan  senantiasa berpihak pada Islam dan Ummat Islam.

“Sesungguhnya agama yang diridhoi disisi Allah hanyalah Islam”.  (QS. Ali Imran [3]: 19)

2.  Pelajar Islam Indonesia (PII) senantiasa mengajak kepada organisasi Islam lainnya kearah tergalangnya persatuan ummat Islam dan tercapainya kesatuan imamah serta terpeliharanya ukhuwah Islamiyah melalui program perjuangan sampai terwujudnya Izzul Islam wal Muslimin di Indonesia khususnya dan dipermukaan bumi pada umumnya.

“Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan jangan kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah menjinakkan antara hatimu lalu menjadikan kamu (karena nikmat Allah) bersaudara, dan kamu telah berada ditepi jurang neraka lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadakamu agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran [3]: 103)

3.  Pelajar Islam Indonesia (PII) senantiasa menjalin kerja sama dengan pihak  manapun, termasuk organisasi sosial politik, dalam maupun luar negeri atau lembaga-lembaga swadaya masyarakat dengan senantiasa menjadikan AD dan ART sebagai rujukan.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”. (QS. Al Hujurat [59]: 13) 

 2.  Garis Kebijakan Terhadap Organisasi Non-Islam

1)  Pelajar Islam Idnonesia (PII) dalam berinteraksi dengan organisasi non-Islam, seutuhnya dan sepenuhnya berpegang dan berpedoman kepada Khittah Perjuangan Umum.

2)  Pelajar Islam Indonesia (PII) senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai aqidah Islamiyah dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip yang berkaitan dengan toleransi beragama, hablum minannas, dan Islam sebagai rahmatan lil `alamin. Muhammad adalah Rasul Allah, dan orang-orang yang beirman kepadanya tegas kepada orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya. (QS. Al Fath [48]: 29)

Berdasarkan pokok Khittah Perjuangan ini, kembali diperjelas tentang kedudukan PII dalam hubungannya dengan organisasi lain dan aktifitas politik. Bahwa keberpihakan PII adalah kepada Islam dan bukan kepada ormas atau kelompok Islam atau bukan Islam manapun.Dan untuk hal itu, bukan berarti bahwa PII harus berlepas dan tidak bekerjasama dengan siapapun.Namun seluruh upaya itu dalam rangka mencapai izzul Islam wal muslimin.

Dalam Falsafah Gerakan PII dijelaskan bahwa terdapat asas interdependensi yang dimiliki oleh PII, yakni:

Esensi pelaksanaan asas independensi (kemandirian) sebagaimana diuraikan di atas tidak menafikan perlunya saling ketergantungan satu sama lain. Wilayah kemandirian tersebut dibatasi oleh hubungan antar manusia yang menjadi kebutuhan asasi manusia Dengan demikian, kemandirian PII tidak berarti menutup diri dari kerjasama dengan pihak lain. Justru, PII terbuka terhadap kerjasama dengan pihak luar sepanjang sesuai dengan kaidah-kaidah organisasi yang telah ditetapkan.Inilah yang dimaksud dengan interdependensi (saling ketergantungan). Kaitan interdependensi dengan asas sebelumnya  –independensi, dapat dijelaskan bahwa dalam menjalankan fungsi independensinya, PII harus terbuka dengan pihak luar; apakah itu terhadap pemerintah, organisasi lain yang sejenis ataupun masyarakat.

Dalam konteks kader, kader PII harus terbuka terhadap perubahan tanpa mengorbankan independensi diri dan kelembagaannya.Dengan asas interdependensi, PII memahami benar bahwa pemenuhan fungsi-fungsi organisasi mencapai tujuan tidak mungkin dilakukan sendiri. Apalagi dalam konteks budaya global seperti sekarang  ini, saling ketergantungan dan keterpengaruhan menjadi ciri yang tak bisa dielakkan. Himpitan kepentingan dan kebutuhan untuk saling bertukar informasi, berbagi pengalaman, dan bahu-membahu melakukan dakwah sosial; benar-benar telah menjadi bagian integral kehidupan.

Oleh karena itu, PII dan kader-kader PII tidak bisa menghindari realitas kehidupan semacam ini.Asas interdependensi juga mensyaratkan agar PII dan kader-kadernya mampu memposisikan diri dalam fungsi-fungsi jaringan sosial.Oleh karena spektrum dakwah yang sedemikian luas, maka secara kelembagaan PII harus menegaskan dirinya sebagai bagian dari mata rantai sosial dan memberikan peran yang signifikan di tengah-tengah gerakan dakwah yang ada.Secara individual, kader-kader PII harus memiliki kemampuan membangun interaksi dengan semua pihak atas dasar pluralitas sosial, budaya, ideologi, dan sebagainya; tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai kader.

Memahami asas interdependesi teramat penting bagi kita agar kita tidak kaku dan bahkan gagap dalam menghadapi keadaan di luar PII. Bahwa, keadaan dan perkembangan di luar organisasi PII akan berjalan di luar kendali PII dan mungkin di luar prediksi PII juga. Akan tetapi, apapun yang terjadi tersebut sikap dasar yang harus tetap dipegang adalah semua itu didasarkan atas suatu kaidah yang benar dan tujuan yang benar.

Setelah menimbang pokok – pokok dalam Khittah Perjuangan PII seperti yang telah disebutkan di atas, selanjutnya saya merasa perlu untuk menjelaskan sikap yang sewajarnya diambil dalam menghadapi pemilu pilpres 2014  ini. Hal ini perlu saya sampaikan sebagai pemenuhan atas tugas saya sebagai pimpinan di PII.Namun sebelum itu, perlulah ditegaskan terlebih dahulu bahwa secara lembaga, PB PII telah memutuskan bahwa PII netral dalam pilpres 2014 ini.

Terkait pilpres saat ini, perlu kita perhatikan bersama bahwa meskipun bahwa calon pasangan itu dipilih secara langsung oleh rakyat.Namun calon pasangan itu tetap diajukan oleh partai politik peserta pemilu yang berhak mengajukan calon berdasarkan ketentuan undang –undang yang berlaku.Oleh karena itu, peran dan pengaruh partai politik tidak bisa diabaikan. Terlebih dalam sistem tata pemerintahan Indonesia saat ini yang masih menempatkan partai politik dan legislative sebagai salah satu aktor penting dan sangat menentukan dalam proses pemerintahan.

Yang kedua, bahwa setiap calon telah menyampaikan visi misi kepada KPU. Visi misi ini merupakan gambaran dari niat dan pemikiran mereka yang akan berlaku menjadi amal perbuatan atau program yang akan mereka susun ketika terpilih menjadi presiden. Maka, memahami visi misi tersebut menjadi sangat penting di tengah keterbatasan kita dalam mengenal dan bertanya secara dalam suatu pertanyaan yang mendalam kepada setiap calon pasangan. Untuk tulisan kali ini, saya akan mengarahkan perhatian secara khusus kepada visi misi ini.

Pada dasarnya, visi misi setiap calon pilpres ini terbagi kepada dua bagian. Bagian pertama adalah yang menjelaskan cara pandang mereka dalam melihat masalah dan idiologi yang mereka tunjukan kepada masyarakat umum. Kenapa saya katakan idiologi yang mereka tunjukan, karena pada dasarnya idiologi itu tidak nampak kecuali setelah dinampakan oleh prilaku atau tindakan.Dan tulisan visi misi itu adalah salah satu tindakan yang menunjukan idiologi tersebut.

Bagian yang kedua adalah yang menjelaskan tentang program atau rumusan strategis yang berdasarkan idiologi.Seharusnya terdapat hubungan yang erat antara bagian pertama dan kedua ini.Seharusnya terdapat konsistensi yang jelas dan tetap antara keduanya. Namun, untuk melihat hal tersebut, perlu suatu tinjauan yang mendalam dan panjang yang oleh karena itu tidak akan dilakukan dalam kesempatan kali ini. Mungkin itu akan bisa dilakukan setelah ini, dan memang hal tersebut hanya bisa ditulis setelah kajian terhadap bagian pertama tentang idiologi telah selesai.

Saya akan menulis dimulai dari pasangan nomor urut satu yakni Prabowo – Hatta dan kemudian pasangan nomor urut dua yakni Jokowi – Jusuf Kalla. Sumber tulisan visi misi dari kedua pasangan tersebut saya akses dari web resmi Komisi Pemilihan Umum yang beralamatkan KPU.go.id.

 

Prabowo – Hatta

Visi misi pasangan ini terdiri dari 9 (sembilan) halaman.Tak ada halaman sampul, tetapi langsung kepada isi.Dari sembilan halaman tersebut, satu halaman awal menjelaskan tentang latar belakang dan visi misi. Maka, berdasarkan satu halaman inilah cara pandang dan idiologi mereka akan kita kaji sehingga kita bisa memahami apa niat dan idiologi yang mereka miliki.

Berdasarkan latar belakang yang dua paragraph dan terdiri dari 11 baris, niat pasangan ini adalah dalam rangka mencapai cita – cita kemerdekaan Indonesia yang sesuai dengan UUD 1945 yang hal itu merupakan idaman rakyat Indonesia. Cita – cita itu adalah tercapainya Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Untuk mecapai hal itu, maka reformasi dan demokrasi di berbagai bidang perlu ditingkatkan lagi sebagai sebuah proses transformasi bangsa sehingga kemakmuran rakyat itu bisa dicapai. Transformasi bangsa itu dilakukan dalam rangka menuntaskan reformasi dan melakukan percepatan pembangunan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, sesungguhnya kita bisa melihat kata transformasi bangsa sebagai titik nodal.Yang dimaksud dengan titik nodal adalah suatu “tanda yang mempunyai hak khusus yang tempat sekitarnya bisa digunakan untuk menata tanda-tanda lain.Tanda-tanda lain tersebut memperoleh maknanya dari hubungan dengan titik nodal itu.”(Phillips, Marieanne W.Jorgensen dan Louise J. 2007. Analisis Wacana ; Teori dan Metode. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.halaman 49).

Maka, bisa kita simpulkan bahwa pasangan ini berniat untuk melakukan transformasi terhadap bangsa ini.Apa, kemana dan bagaimana, siapa dan untuk apa transformasi bangsa tersebut terjawab dalam penjelasan tentang visi dan misi pasangan ini.

Visi pasangan yang hendak membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur serta berdaulat adalah tujuan dari transformasi bangsa ini. Sedangkan misinya yang pertama yang menyebutkan mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang aman dan stabil, sejahtera, demokratis, dan berdaulat, serta berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia, serta konsisten melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 merupakan penjelasan tentang apa yang akan ditransformasikan tersebut. Bahwa transformasi ini akan mewujud dalam sebuah Negara yang memiliki kapasitas dan keadaan seperti yang disebutkan tersebut.

Misi yang pertama tersebut juga sesungguhnya sedang menjelaskan tentang idiologi Negara yang akan dipegang. Yakni Pancasila dan UUD 1945. Mengapa Pancasila dan UUD 1945 itu dipisahkan dan tidak disatukan, sangat mungkin hal tersebut untuk menunjukan sekaligus penegasan kepada pengertian bahwa Pancasila dan UUD 1945 merupakan suatu kesatuan. Atau mungkin untuk menunjukan bahwa Pancasila tersebut dijelaskan oleh UUD 1945 dan begitu pun UUD 1945 dijelaskan oleh Pancasila.Dalam hal ini, saya tidak mendapatkan penjelasan pasti tentang hal itu.

Dalam misi yang kedua, dijelaskan tentang Indonesia yang adil, makmur, berkerakyatan dan mandiri. Sekilas, baik nomor satu, dua dan tiga adalah sama. Namun ada titik penekan yang berbeda.Apabila nomor satu itu terkait Negara atau organisasinya, maka nomor dua ini lebih terkait dengan keadaan masyarakatnya.Lebih terkait dengan keadaan orang – orang yang dinaungi atau dilindungi oleh Negara yang disebut dalam nomor satu.

Sedangkan dalam misi yang nomor tiga, dijelaskan tentang siapa dan dengan cara apa transformasi itu akan dilakukan. Bahwa transformasi itu akan dilakukan dengan jalan melahirkan SDM yang berakhlak, berbudaya luhur, berkualitas tinggi (sehat, cerdas, kreatif, trampil). Maka, seharusnya seluruh agenda program nyata itu diarahkan untuk melahirkan SDM tersebut selain juga untuk membangun sistem organisasi dan masyarakat seperti yang disebut dalam misi no satu dan dua.Itulah seharusnya menjadi ukuran nyata atau tidaknya bagi visi dan misi pasangan ini.

Kata “nyata” tertulis dalam teks visi misi pasangan ini sebagai sebuah penegasan bahwa visi misinya terukur dan berdampak besar.Aksi dan program nyata tersebut disusun dalam rangka untuk menyelamatkan Indonesia. Dalam hal ini, terkesan ada suatu perbedaan penyataan dengan pernyataan di latar belakang yang terkesan positif terhadap proses reformasi yang tengah berlangsung.

Namun, ada suatu cara lain untuk melihat kedua hal ini tidak saling bertentangan. Yakni, penulisan kata menyelamatkan Indonesia di akhir dengan ungkapan positif di sebelumnya untuk menunjukan adanya ancaman terhadap proses reformasi yang tengah berlangsung secara internal. Ancaman itu berasal dari luar yang justru menginginkan transformasi bangsa itu tidak terjadi.

Dari penjelasan satu halaman tersebut, saya tidak bisa memastikan apa dan dan bagaimana memberikan penjelasan terhadap Pancasila yang dipahami oleh pasangan ini. Hal ini bisa berarti positif ataupun negative.Ditinjau dari kebaikannya, maka hal ini memberikan ruang bagi penerjemahan Pancasila. Apabila hal ini berlaku, maka penerjemahan berdasarkan cara pandang Islam yang akan lebih kuat dan tepat karena memang Pancasila tidak akan mungkin dijelaskan secara utuh dan menyeluruh sebagai sebuah penjelasan yang ilmiah kecuali berdasarkan cara pandan dunia Islam.

Atau hal ini bisa kita terjemahkan bahwa idiologi yang dimiliki oleh pasangan ini adalah berupa idiologi yang menekankan kepada pencapaian tujuan.Ini adalah seperti sebuah pemikiran yang berlaku di sebagian keluarga Jawa yang menekankan kerukunan dan kesejahteraan keluarga sebagai yang utama. Dalam cara pandang seperti ini, agama dari setiap anggota keluarga tidak penting melebihi pentingnya kerukunan dan kesejahteraan keluarga tersebut.

Ketika hal ini yang memang terjadi, maka hal terpenting adalah memastikan kebermanfaatan tersebut dengan cara yang dipahami oleh pemilik idiologi ini. Secara falsafah, idiologi ini mendekati idiologi pragmatism namun menjadi berbeda karena konteks kultur Jawa yang telah lama terisi dan terjiwai oleh nilai – nilai Islam.

Jokowi – Jusuf Kalla

Berbeda dengan pasangan yang pertama, visi misi pasangan yang kedua ini terdiri dari 42 halaman.Satu halaman sampul dan 6 berikutnya menjelaskan tentang idiologi pasangan calon nomor dua ini.Berbeda juga dengan yang pertama, pasangan yang kedua ini secara lebih jelas dan tegas menunjukan idiologi yang mereka pegang baik di halaman sampul maupun di 6 halaman berikutnya.

Dalam halaman sampul, tertulis judul “Jalan Perubahan untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian”.Kalimat itu dibentuk berdasarkan dua konsep yang menjadi idiologi yang ditunjukan dalam visi misi pasangan nomor dua ini. Idiologi yang secara tegas dijelaskan oleh mereka dengan nama idiologi Pancasila 1 Juni 1945 dan Trisakti.

Dalam halaman berikutnya dijelaskan tentang niat mereka dalam pendahuluan yang berjudul “Berjalan Di Atas Amanat Konstitusi”.Dalam penjelasan yang sepanjang dua paragraph atau 16 baris, amanat konstitusi yang dimaksud adalah tentang arah tujuan nasional pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana yang disebutkan dalam pembukaan UUD 1945.Lebih daripada itu, saya tidak melihat saya tidak melihat komitmen dalam visi misi pasangan ini terhadap pembukaan UUD 1945 secara keseluruhan.Apa yang saya lihat itu sesungguhnya dijelaskan dalam pendahuluan tersebut.

Itu bisa terjadi karena di dalam pembukaan UUD 1945 tercantum banyak kalimat dan juga rumusan Pancasila 5 juli 1959 yang secara jelas bertentangan dengan idiologi pasangan ini yakni Pancasila 1 Juni 1945. Sebelum lebih jauh membincangkan tentang idiologi Pancasila 1 Juni 1945 dan Trisakti, saya akan jelaskan tentang cara mereka dalam melihat masalah dan apa yang terjadi di Indonesia.

Mereka menilai bahwa reformasi 1998 sesungguhnya telah memberikan sesuatu yang menjanjikan bagi lahirnya perubahan. Sehingga terjadi proses transisi setelah tahun 1998 tersebut. Namun hingga 16 tahun setelah itu, yakni tahun 2014, janji – janji itu semakin terjal dan berada dalam ketidakpastian. Proses selama 16 tahun pasca reformasi 1998 itu akhirnya menjadi suatu transisi berkepanjangan yang penuh ketidakpastian. Maka, transisi berkepanjangan dan penuh ketidakpastian itu harus dihentikan untuk memberikan jalan bagi lahirnya Indonesia Hebat.Jalan bagi kelahiran Indonesia Hebat itu mereka Sebut sebagai jalan perubahan.Dan jalan perubahan yang mereka maksud itu sesungguhnya adalah jalan idiologi.Dan idiologi yang mereka maksud itu sesungguhnya adalah Pancasila 1 Juni 1945 dan Trisakti.Maka, bagi mereka upaya selama 16 tahun setelah reformasi itu tidak mencerminkan suatu jalan perubahan yang sesuai dengan idiologi mereka.

Selepas pendahuluan tersebut, mereka menjelaskan tentang cara pandang mereka terhadap persoalan yang sesungguhnya sedang dihadapi oleh Indonesia. Penjelasan mereka tentang hal itu didasarkan atas Trisakti yang dikarang oleh Soekarno.Ajaran Trisakti Soekarno menyebutkan bahwa Indonesia harus berdaulata dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.Berdasarkan hal itu, mereka menjelaskan bahwa persoalan Indonesia itu adalah karena wibawa Negara yang merosot, kelemahan sendi perekonomian bangsa, serta intoleransi dan krisis kepribadian bangsa.Setiap pokok yang tiga itu dijelaskan kembali dengan contoh – contoh dalam berbagai bidang yang terkait dengannya.Trisakti dengan Pancasila 1 Juni 1945 sesungguhnya sesuatu yang sama. Tidak ada perbedaan kecuali hanya namanya saja. Adapun dalam isi kandungan dan maksudnya adalah sama.

Berikutnya, mereka menulis suatu judul kecil baru yakni “Meneguhkan Kembali Jalan Ideologis”.Dalam satu paragraph penuh mereka menjelaskan tentang kedudukan idiologi bagi mereka. Berikut saya tulis kembali satu paragraph tersebut,

Kami berkeyakinan bahwa bangsa ini mampu bertahan dalam deraan gelombang sejarah apabila dipandu oleh suatu ideology.Ideology sebagai penuntun; ideology sebagai penggerak; ideology sebagai pemersatu perjuangan; dan ideology sebagai bintang pengarah.Ideology itu adalah PANCASILA 1 JUNI 1945 dan TRISAKTI.

Singkatnya, mereka telah dan benar – benar menempatkan idiologi sebagai pandangan hidup atau worldview atau weltanschauung yang membahas segala aspek dalam kehidupan.Dan mereka telah dengan tegas dan secara lugas menjelaskan idiologi mereka.Meskipun, mereka tidak membahas Pancasila 1 Juni 1945 seperti mana mereka membahas Trisakti. Entah apa alasan atau sebab mereka melakukan hal tersebut. Namun apapun itu alasan atau sebabnya, saya akan berusaha untuk membahas secara singkat tentang idiologi Pancasila 1 Juni 1945 tersebut.

Mereka hanya menjelaskan Pancasila 1 juni 1945 dalam dua paragraph atau 11 baris setelah mereka menyebutkan visi mereka yakni “ Terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berdasarkan gotong royong.” Setelah itu mereka kembali menjelaskan tentang Trisakti dengan contoh – contoh.Mengakhiri dengan menyebutkan 7 misi yang mereka miliki.

Misi yang pertama adalah mewujudkan keamanan nasional untuk terciptanya Trisakti.Kata yang dipergunakannya adalah keamanan nasional, bukan Negara.Hal ini menurut pendapat saya untuk menegaskan pendapat mereka yang lebih menempatkan ideology di atas Negara.Kalimat dalam misi yang pertama ini benar – benar telah menunjukan suatu kekuatan dan keyakinan yang mendalam dari mereka terhadap ideology yang mereka pegang.

Isi dari misi yang pertama itu menjadi pokok yang dijelaskan oleh 6 misi yang lainnya.Sehingga sebenarnya, andaikata mereka hanya menuliskan misi yang pertama itu saja, itu sudah cukup.Namun mereka tetap menuliskan 6 misi yang lainnya.Mungkin maksud dari pilihan itu adalah untuk memberikan informasi atas maksud daripada misi yang pertama.Atau untuk maksud yang lainnya yang tidak saya ketahui saat ini.

Selanjutnya, saya merasa perlu untuk menjelaskan dalam kesempatan ini tentang Pancasila 1 Juni 1945 yang menjadi ideology mereka. Karena, berdasarkan visi misi yang mereka buat, sesungguhnya tidak akan terlalu kita pahami apabila tidak membaca Pancasila 1 Juni 1945 sebagaimana yang mereka jelaskan. Dan barangkali, itulah salah satu maksud mereka tidak menjelaskan Pancasila 1 Juni 1945, yakni agar kita bisa membaca dan menganalisanya sendiri.

Untuk tulisan ini, saya akan bersumber kepada pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Perlu dipahami bersama, bahwa Pancasila 1 Juni 1945 bukanlah Pancasila 17 Agustus 1945 yang kita kenal sebagai piagam Jakarta. Bukan pula Pancasila 18 Agustus 1945 dan bukan juga Pancasila 5 Juli 1959 (yakni Pancasila 18 Agustus 1945 yang dijiwai Piagam Jakarta) yang sekarang ini berlaku. Akan tetapi, Pancasila 1 Juni 1945 adalah rumusan Soekarno yang belum disepakati dan ditanggapi oleh para pemimpin rakyat waktu itu yang kelak akan menjadi para pendiri Indoesia.

Pancasila 1 Juni 1945 memiliki isi dan idiologi sebagai berikut :

  1. Asas yang pertama adalah Kebangsaan Indonesia. Kebangsaan adalah suatu kehendak untuk bersatu, atau persatuan perangai karena persatuan nasib yang berlaku juga terutama karena kesamaan geopolitik. Karena itulah, kebangsaan Indonesia itu disebut sebab bagi lahirnya suatu Negara nasional.


Kebangsaan Indonesia itu lahir dari adanya kesadaran akan suatu geopolitik bahwa yang ada suatu ikatan yang kuat antara orang dengan tempat atau tanah airnya. Dan tanah air yang menunjukan suatu lingkup nasional berdasarkan tinjauan geopolitik itu adalah nusantara.Yakni yang menunjuk kepada suatu kepulauan yang ada diantara dua samudra dan dua benua. Oleh karena itu, cara pandang kebangsaan Indonesia ini sangatlah materialis, dan tak ada suatu nilai (moral dan agama) yang kokoh dalam pandangan ini.

  1. Internasionalisme atau perikemanusiaan, yakni suatu kesadaran bahwa dunia ini terdiri dari suatu kebangsaan nasional lainnya yang banyak. Diantara sesama kebangsaan nasional ini harus saling menghargai dan tak boleh satu sama lain menjadi merasa lebih unggul karena kebangsaannya atau karena agama atau karena rasnya. Internasionalisme ini menolak dan berbdea dengan kosmopolitan yang menolak adanya kebangsaan.


Jika dibandingkan dengan konsep ukhuwah Islamiyah, maka internasionalime pun berbeda dengan konsep ukhuwah atau kandungan surat al hujuran ayat 13. Karena Internasionalisme tidak menempatkan nilai taqwa sebagai standar dan tujuan dari perbedaan tersebut.Akan tetapi internasionalisme dengan kebangsaan (nasionalisme) itu saling terkait.

  1. Mufakat atau demokrasi, maksudnya bukanlah musyawarah seperti yang dimaksud oleh Islam. Akan tetapi maksud mufakat atau demokrasi ini adalah suatu pembelaan terhadap antroposentris yang telah menempatkan orang sebagai sumber kebenaran. Bahwa suara rakyat yang terbanyak itu menjadi suara kebenaran yang harus diikuti. Demokrasi yang dimaksud bukanlah demokrasi yang tidak membuat kesejahteraan rakyat meningkatnya. Tetapi bagaimanapun, sumber konsep demokrasi yang dijelaskan oleh Pancasila 1 juni 1945 adalah seperti kehendak umum yang dirumuskan oleh J.J Rousseau.


Memang, pemikiran Soekarno yang merupakan penggagas ideology Pancasila 1 Juni 1945 sesungguhnya bersumber dari rumusan intelektual Barat.Idiologi Pancasila 1 Juni 1945 ini telah menempatkan Negara dalam posisinya sebagai sebuah payung suci yang akan menempatkan agama dalam naungan kemufakatan di dalam sebuah Negara. Yakni, Negara tidak memiliki keberpihakan kepada agama manapun.Akan tetapi justru menjadikan Negara sebagai tempat pertempuran dari setiap idiologi yang ada.

  1. Kesejahteraan sosial, bahwa segala proses demokrasi harus diarahkan untuk melahirkan kesejahteraan sosial. Jadi, segala proses seperti yang tersebut dalam sila yang ketiga haruslah dalam rangka mendukung kesejahteraan sosial.


 

  1. Ketuhanan, yakni suatu pengakuan akan keragaman kepercayaan yang ada di dalam masyarakat. Setiap orang bertuhan dan setiap orang harus menghormati setiap orang lainnya yang mempunyai tuhan yang berbeda dalam kepercayaan dan peribadatannya. Konsep ketuhanan ini sesungguhnya bisa ditelusuri dari pidato Soekarno pada tanggal 5 Mei 1954 di Makasar yang kemudian diharamkan oleh ulama di Sulawesi untuk mempergunakan sepertimana perkataanya Soekarno. Namun, sampai tulisan ini dibuat saya masih belum bisa mengakses atas dokumen tersebut.


Dari kelima itu diperas menjadi tiga, yakni sosio nasionalisme, sosio demokrasi serta ketuhanan.Kemudian dari yang tiga terseut, diperas lagi menjadi satu, yakni gotong royong.Gotong royong bermakna suatu persatuan dari seluruh rakyat Indoensia. Artinya, sesungguhnya yang terpenting daripada Ideologi Pancasila 1 Juni 1945 itu adalah persatuan untuk suatu tujuan bersama yang mana tujuanbersama itu diputuskan berdasarkan suatu rumusan dari sila yang lima tersebut.

 

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan terhadap visi misi kedua pasangan pilpres, saya melihat bahwa visi misi capres nomor urut dua lebih banyak kelemahan dan ketidak cocokannya dengan visi misi gerakan PII. Visi misi  mereka secara gamblang dan jelas menunjukan ketidaksetujuannya terhadap politik Islam. Sebagai sebuah bangsa, kita ummat Islam sudah sejak lama bertoleransi dalam terkait urusan dasar Negara. Apabila ideology Pancasila 1 Juni 1945 berlaku di Indonesia dibawah pasangan pilpres,maka itu berarti sebagai sebuah bangsa, ataupun sebagai seorang muslim kita mundur kembali dari konsensus bangsa seperti yang telah kita lihat dalam sejarah.

Sedangkan visi misi nomor urut satu berdiri di atas suatu keberpihakan ataukomitmen kepada UUD 1945 dan Pancasila 5 Juli 1959.Maka, karena itulah, perda yang dikenal sebagai perda syariah yang berlaku di banyak daerah bukanlah sebuah suatu ancaman. Namun bagi Pancasila 1 Juni 1949, hal tersebut merupakan suatu ancaman bagi ideology mereka yang akan merusak keragaman.

Demikianlah suatu catatan kecil saya tentang pilpres mendatang ditinjau dari visi misi yang mereka sampaikan kepada khalayak umum.Penting bagi kader PII untuk memahami hal ini dan mampu menyebarkannya kepada masyrakat agar masyarakat benar –benar mengetahui pilihan rasional diantara kedua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden.Pun tulisan ini adalah suatu usaha saya untuk memberikan suatu kontribusi atas pilpres tahun ini.

Tentu semua yang telah saya tulis ini saya lakukan di tengah keterbatasan.Dan seluruh pandangan yang saya sampaikan dalam tulisan ini adalah mewakili diri saya pribadi sebagai seorang kader PII yang sedang diberikan amanat untuk menjadi ketua umum PB PII.Dan justru karena itulah saya menyusun tulisan ini sebagai sebuah bentuk tanggung jawab kepemimpinan saya.

Secara lembaga PB PII menyatakan diri netral sebagai sebuah pilihan sikap yang didasarkan atas Khittah Perjuangan PII dan sebuah pemikiran untuk kebaikan. Namun, bukan berarti bahwa setiap kader dilarang menyampaikan pandangannya terhadap proses pilpres ini. Tulisan ini akan sangat berharga apabila dibaca dan diberikan komentar dengan sebuah tulisan yang setara. Semoga bermanfaat.

Sumber : https://www.facebook.com/notes/10152492146618724/

 
Share on Google Plus

About fasya elsyahid