Warung Wak-Waw

Warung baru ini bisa disebut mini café, meski kecil warung ini memiliki halaman yang memadai untuk menambah meja dan kursi tambahan. Namun sayang jika saja gerimis atau hujan turun, pengunjung pasti langsung bubar.

Meski sederhana, warung yang baru lima hari buka ini, selalu dipenuhi para pembeli. Aku pikir ini karena sosial media. Twitter benar-benar telah melambungkan nama warung ini. Si pemilik warung bersama teman-temannya memanfaatkan sosial media untuk ajang promosi warungnya. Jejaring pertemanan yang luas mampu membantu mendulang keuntungan bagi pemiliknya. Pertemanan yang baik dengan para musisi band, aktifis dan jurnalis telah ikut serta menduniakan nama warungnya. Warung kecil dan sederhana ini bernama Warung Wak-Waw. Mungkin si pemilik warung ini terinspirasi oleh si Wak-Waw di filmnya Emak Ijah Pengen ke Mekkah, pemulung yang bernasib untung.


Warung ini jika banyak pengunjunganya suasananya riuh oleh suara obrolan mereka. Tidak ada suara alunan music dan juga tidak ada pertunjukan seni, setiap meja obrolannya berbeda. Jika saja kita datang seorang diri dan memilih meja kecil hanya untuk duduk sendiri, maka kita bisa menikmati tontonan unik. Menyaksikan sekelompok manusia tengah bersua, membincangkan mimpi atau hanya sekedar melepas tawa. Bengcengkrama dengan kawan sambil meminum capocino, mocca, teh manis atau kopi hitam. Menghisap rokoknya atau nyambil makanan ringan, sosis, kentang goreng atau sekedar makan mie rebus atau nasi goreng.

Dan aku duduk disini hanya sekedar melepas penasaran. Minum kopi hitam dan menikmati sepiring kentang goreng. Aku foto makanan yang tersaji dimejaku, aku sebar di sosmed. Kutunjukan kepada mereka bahwa aku juga tengah berada di Warung Wak-waw. Ku kabarkan kepada mereka bahwa aku telah termakan oleh propaganda. Dan aku menikmatinya. Andai saja ada kawan di mejaku ini tentunya sama halnya yang akan ku perbuat. Beriuh suara tawa atau bahkan berdebat tentang jalannya logika.

Berbincang soal politik, agama, sejarah atau bahkan mengangkat isu terhangat di media. Tapi, andai saja ada teman sekawan yang saat ini duduk di mejaku ini, hanya satu hal yang ingin ku perbincangkan, tentang nasib kedepan. Nasib ku, kamu, dia dan dirinya.

Alloh telah menentukan garis ketentuan dalam hukumnya “Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Yang jadi persoalan keadaan seperti apa yang dikehendaki kaum seperti kita ini ?. Kita hidup bersosial dan bahkan hidup bernegara, jadi mau seperti apa kita ini. Jikalau kita sibuk dengan diri sendiri, nantinya bisakah sama kehendak yang kita inginkan itu?

Teringat obrolan santai dengan seorang aktifis yang tengah menyamar profesi menjadi pamong Negara. Setelah banyak mengurai sebuah fenomena dan fakta realita kondisi sosial dia hanya berpesan

“Tetaplah menjadi manusia yang berguna untuk manusia lainnya bahkan menjadi rahmat untuk semesta alam. Ketika Nampak kerusakan itu, selamatkan apa yang bisa diselamatkan, jagalah apa yang bisa dijaga. Siapkanlah apa yang bisa dipersiapkan. Jika ujian datang dan musibah melanda tetaplah teguh dan istiqomah di Jalanya. Jangan hidup semau hawa nafsu, tetapi hiduplah sesuai petunjuk jalan-Nya”

Warung Wak-waw kali ini telah mendapatkan nasibnya. Begitupun mereka yang berkunjung kesini, sama halnya dengan aku, sekarang kudapati nasibku meminum kopi hitam dan menikmati sepiring kentang goreng sambil memikirkan dan merenungi nasibku.

*Jumat Berkah di tengah kota Subang – 12 Desember 2014
Share on Google Plus

About fasya elsyahid