Ketika Wanita Menggugat Pria (Angka Perceraian di Kabupaten Subang)

Seperti biasa, setiap pagi sya selalu membaca berita. Sekedar ingin tahu peristiwa apa saja yang dimuat oleh media. Jumat kemarin (9/1). Sya tertarik membaca sebuah berita dari media lokal Pasundan Ekpress, berita tentang angka percerain yang terjadi di kabupaten Subang. Kota dimana sya tinggal saat ini.

Tertulis dalam laporannya tentang angka perceraian pada tahun 2014. Pada tahun itu, Pengadilan Agama (PA) menerima perkara perceraian suami istri berjumlah 2.737 perkara. Dan ternyata Angka ini terus meningkat dibanding tahun sebelumnya. Sya coba searching google dengan keyword ‘angka perceraian di Subang’, hanya mendapati data angka perceraian tahun 2011 dan 2012 itupun dari pemberitaan berita online.

Pada tahun 2011 angka perceraian mencapai 2.555 perkara. Dan tahun 2012, angkanya menurun menjadi 2.498. Untuk tahun 2013, sya tidak dapat angkanya, maklum Cuma searching google. Meskipun sebenarnya bisa dilihat data dari web pengadilan agama, namun sya beranggapan ada beberapa laporan yang belum di update.

Jika menilik pada angka perceraian di dua tahun itu. Jelas tahun 2014 angka perceraian meningkat. Jika diurai, angka percerain itu akumulasi dari dua perkara, percerain karena cerai talak berjumlah 1038, perceraian karena cerai gugat sebanyak 1699.

Angka itu yang membuat sya tertarik untuk menelusurinya lagi. Sebuah penomena dimana para wanita tengah menggugat pria, angkanya beda setengahnya dengan cerai talak oleh pria. Persoalan jumlah cerai ini memang sedikit jika dibanding dengan sisa jumlah penduduk subang lainnya. Dimana saat ini jumlah penduduk subang kurang lebih 1,5 juta orang.

Kita tidak bisa begitu saja menganggap sepele persoalan itu, menurut sya itu berarti ada 2.737 keluarga yang tengah terkoyak nasibnya, atau bisa sya katakan ada 5.474 orang yang tengah dilanda prahara. Bisa kita bayangkan. Dengan angka tersebut itu sama dengan jumlah warga satu kelurahan. Itu artinya, bisa kita anggap ada satu kelurahan semua warganya tengah bermasalah dalam urusan keluarga. Coba bayangkan bagaimana situasi, kondisi dan nasib daerah itu?.

Yang lebih mengkhawatirkannya adalah, dimana wanita kini tengah menggugat pria. Seperti data yang tertuang tadi di atas. Jika kita lihat web nya pengadilan agama kab. Subang. Sebuah stastik menunjukan mulai tahun 2008 sampai 2015 awal, angka tertinggi perceraian yaitu karena perkara cerai gugat. Itu artinya banyak wanita lebih memilih menjadi janda.

Yang lebih heran lagi, statistic menunjukan bahwa mereka yang bercerai rata-rata usianya baru 20 sampai 30 tahun. Anggap saja jika digeneralisir, kita anggap mereka menikah diumur 19 tahun. Itu artinya usia pernikahannya baru seumur atau bahkan kurang dengan usia dua periode pergantian Presiden.

Ya.. meski bisa dikatakan sya masih pengantin baru, sudah menilik kasus-kasus seperti ini. Ini berarti sya harus mawas diri dari persoalan perkara yang Tuhan tidak suka- (Meski hadistnya dhaif). Banyak hikmah bisa diambil dari persoalan ini untuk bekal berumah tangga kedepan.

Karena ada beberapa faktor perkara cerai ini bisa terjadi. Menurut data statistic, grafik tertinggi perceraian di akibatkan oleh permasalahan ekonomi, dan yang kemudian karena tidak adanya tanggung jawab.

Perkara-perkara seperti ini harus kita ambil hikmahnya, membangun keluarga itu sama dengan membangun masyarakat atau bahkan Negara. Atau bahkan membangun agama karena melalui keluarga semuanya bisa terbentuk. Itu karenanya diperlukan visi missi mulia dalam mengarungi bahteranya.

Sebagai pengantin baru tentu perlu menaruh besar pada pecapaian untuk mewujudkan cita-cita bersama, dan berharap serta berdoa agar tertus mampu mengarungi samudera kehidupan, melewati ombak dan badainya.

Jadi inget petuah orang tua sya, hanya satu jalan yang bisa menyelamatkan kita dari semua badai kehidupan yaitu terus bersama-sama satu jalan istiqomah dalam naungan Risalah-Nya. *semoga tetap istiqomah, Amiin.
Share on Google Plus

About fasya elsyahid