Mengingatnya, Tapi kok Tidak Ikuti Keteladanannya.

Ibarat kata, selalu mengingatnya tapi tak penah mau ikut petuahnya. Hal inilah yang menggambarkan sebagian realita yang ada. Dimana orang selalu ingin mengingatnya, menyebut-nyebut namanya, namun sangat sedikit sekali mengikuti petuahnya. Ngakunya ingin ikuti cara hidupnya, namun sayang, prilaku yang dicontoh lain orang.

Itulah imajinasi sya di tengah mendengarkan khutbah Jumat kemarin, 2 Januari 2015 di masjid besar didekat stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Saat itu khotib sedang menyampaikan kutbah yang berisi tentang maulid nabi Muhammad SAW. Entah mengapa saat itu pikiran sya menerawang berimajinasi pada sebuah realita, dimana banyak orang mengaku umat nabi Muhammad, namun sedekit sekali yang mengikuti titah dan petuahnya.

Sya pun merasa ditampar, ketika teringat kembali masa-masa mengisi materi pada sebuah training atau di pengajian. Sering kali sya menceritakan tentang sosok Agung dan Mulia, Ahlaknya, dan perjuangannya. Namun lain dimateri lain diprilaku. Entah prilaku siapa yang saat ini sya tiru, entah cara hidup siapa yang saat ini sya lakukan, entah cara bertutur siapa yang sya gunakan. Entah dan masih banyak entah lainnya. Sya serasa malu diri.

Kutbah Jumat di awal tahun 2015 yang bertepatan dengan bulan Rabiul awal, bulan dimana nabi Muhammad dilahirkan. Menjadi muhasabah diri, tidak pernah bersyukur dengan apa yang telah didapat saat ini yakni nikmat Iman dan Islam. Hampir saja lupa seharusnya menggunakan kenikamatan Iman dan Islam. Ya.. sya beriman dan sya Islam. Namun jika saat ini dievaluasi, nampaknya seperti apa yang tertuang dalam ayat Al-Quran.

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah (kepada mereka): "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Al Hujurat : 14).

Tentunya jika iman telah merasuk dalam hati akan tergerak untuk sepenuhnya melaksanakan semua ajarannya dan perintah-Nya. Dan akan merasakan bagaimana pahit getirnya perjuangan dalam berislam dan nikmatnya mempertahankan keteguhan iman dalam melaksanakan Islam.

Dalam hal ini, tulisan sya di blog ini sekedar muhasabah diri, mengingat nabi Muhammad SAW, membayangkan Ahlaknya dan perjuangannya. Dialah Manusia Agung nan Mulia yang akan memberikan syafaat, banyak orang mengingatnya namun tidak sedikit orang meninggalkan keteladannya.

Kini hanya tinggal cita, tekad dan harapan  bisa menjadi ummatnya, umat yang tidak sekedar mengaku di bibir, namun bisa mengikuti dan melaksanakan sunnahnya. “Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad, kamaa shallaita ‘ala ibrahim wa ‘ala aali ibrahim innaka wa baarik ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad, kamaa baarakta ‘ala ibrahim wa ‘ala aali ibrahim innaka hamiidum majiid.”

 

*sepertiga malam, kosant.
Share on Google Plus

About fasya elsyahid