Tong Sok Sailu-Iluna

[caption id="attachment_878" align="alignleft" width="267"]taqlid Sumber : syiarislam.net[/caption]

Dalam bahasa Sunda ada isitilah bahasa “Tong sok sailu-iluna” terjemahan Indonesia bebasnya tuch “Jangan asal ikut-ikutan” Kalau dalam pribahasa, ini sama dengan istilah Jangan Membebek. Mengekor sesuatu yang belum tahu benar bagaimana perkaranya, ini sangat berbahaya dan merugikan. Karena itu diperlukan pendalaman dan pencarian informasi. Kalo di lingkungan kampus atau sekolah bisa diartikan kita perlu belajar atau mencari ilmunya. Sama halnya di dunia kerja, perlu tahu bagaiamana aturan dan pedoman kerjanya.


Peringatan jangan membebek atau taqlid buta ini pun tertuang di dalam kitab suci Al-Quran. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al-Isro 17:36)


Atau sering kali sikap membebek, sailu-iluna, dikarenakan hanya karena ikut kebanyakan orang. Dengan mengikuti kebanyakan orang dirinya merasa telah melakukan perkara yang benar. Padahal semua perkara yang dikerjakan oleh setiap pribadi, sejatinya akan kembali pada diri sendiri begitupun semua resiko dan konsekuensinya.


Sikap mengikuti kebanyakan orang, tanpa mencari pengetahuan mendasar perkaranya, itupun tidak dibenarkan. Seperti yang tertuang dalam Quran surat Al-An’am (6) ayat 116, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan-mu dari jalan Allah, mereka tidak lain hanya mengikuti persangkaan belaka. dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”.


Persepsi ataupun opini yang dilandasi dari sebuah dugaan atau prasangka sangat perlu dibuktikan dan diuji agar menjadi sebuah kebenaran, yang kemudian menjadi bekal kita bisa mengamalkannya. “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali perasangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan” (QS. Yunus 10 : 36).


Itu artinya setiap perkara yang dilakukan/diamalkan tidak boleh berdasarkan persepsi atau opini, tetapi harus bedasarkan ilmu. karena pengetahuan yang benar itu adalah ilmu. Orang memiliki ilmu tentunya akan berbeda derajatnya dengan orang yang tidak berilmu.


“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadilah 58 : 11)


“Barang siapa yang menghendaki dunia maka hendaklah ia berilmu, barang siapa yang menghendaki kesuksesan akhirat maka hendaklah ia berilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya maka hendaklah ia berilmu” (H.R. Asy-Syafii dari Ali r.a)


Ilmu, merupakan kunci dari sebuah kesuksesan. Siapa yang menghendaki kesuksesan maka ia perlu belajar untuk mendapatkan ilmunya. Dalam menggali ilmu atau belajar, bisa dilakukan dengan cara-cara berpikir filosofis, atau dengan memunculkan kata pertanyaan “Mengapa”. Pendekatan filosofis diantaranya bercirikan sebagai berikut ini ;




  • Bebas, artinya bebas untuk mempertanyakan segala sesuatu tanpa terikat oleh tradisi ataupun figure.

  • Sistematis, yakni berpikir secara runtun, melangkah dari pemikiran logis yang satu ke pemikiran logis berikutnya.

  • Rasional, yakni mudah dipahami karena hubungan sebab-akibatnya jelas,

  • Objektif, yaitu jelas referensi dan rujukannya,

  • Radikal, yakni sampai pada kesimpulan

  • Koheren, bagian demi bagian penjelasannya harus saling menguatkan

  • Konsisten, yakni taat asas, taat prinsip dan taat kaidah



---




  • Al-Quran dan Terjemahan. Departemen Agama RI.

  • Abdurrahman, Rijal. 2013. Jalan Menuju Hidayah. Bandung; Qaulan Tasiqila Media

  • Ausop, Asep Zaenal. 2014. Islamic Character Building. Bandung; Salamadani

Share on Google Plus

About fasya elsyahid