Musibah dan Sumpah Serapah

sumpah-serapah

Musibah merupakan kata serapan dari bahasa arab, yang asal katanya AshobaYushibu yang artinya menimpa. Ahli bahasa arab berpendapat, pada kata musibah dikatakan: Mashuubatun – Mushoobatun – Mushibatun, hakikatnya adalah perkara yang tidak disukai yang menimpa manusia. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata musibah adalah kejadian atau peristiwa menyedihkan yang menimpa. Arti lain dari makna musibah bersinonim dengan kata bencana atau malapetaka.





Musibah atau kejadian menyedihkan ini ternyata dialami oleh sebagian warga masyarakat Subang. Pasalnya di dua bulan ini, kabupaten Subang tengah mengalami beberapa musibah, salah satunya yaitu musibah yang baru saja dialami, yakni terjadinya bencana alam pada 22 Mei 2016. Banjir bandang telah melanda dan menyapu sebagian pemukiman warga yang berada di desa Sukakerti kecamatan Cisalak. Rumah tinggal rusak dihantam material bandang, korban pun berjatuhan, menderita kesakitan. Mereka harus rela kehilangan salah satu anggota keluarganya yang tewas karena tidak kuasa untuk menyelamatkan diri.

Musibah bencana alam ini mengundang rasa empati dari semua kalangan diberbagai pelosok, bantuan pun akhirnya berdatangan. Mulai dari tenaga medis, peralatan  serta makanan dan bantuan lainnya. Warga masyarakat saling bahu-membahu untuk tolong menolong menghapus kesedihan para korban bencana. Titik nadir kemanusiaanya terpanggil untuk sama-sama merasakan penderitaan. Doa-doa dipanjatkan serta saling menguatkan dalam ketabahan. Musibah ini telah membuka mata hati dan pikiran untuk saling memberi pertolongan. Hal  terpenting pada hikmah dibalik bencana ini adalah kita kembali disadarkan untuk senantiasa ikut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Persitiwa menyedihkan lainnya yaitu terjadi sebelum bencana alam banjir bandang datang, tepat diawal bulan April kabupaten Subang mengalami musibah, ini bukanlah tentang bencana alam, namun sebuah malapetaka kepemimpinan. Lagi-lagi Subang terdampak musibah, terjeratnya orang nomor satu di Subang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan telah ditetapkan statusnya sebagai tersangka pelaku rasuah. Bahkan menurut desas-desus dan berita media yang berkembang, diindikasikan ada palaku rasuah lainnya yang tengah disidik oleh KPK.

Inilah sebuah musibah. Malapetaka yang terjadi di kabupaten Subang. Orang yang telah dipecayai menjadi pemimpin Subang telah mengingkari janji dan amanahnya. Ini jelas musibah bagi warga Subang, Kesedihan meliputi masyarakat subang, pemimpinnya kini telah berkhianat. Dua kali sudah, orang yang memimpin Subang harus terjerat kasus korupsi.

Berbeda dengan musibah bencana alam, semua bersatu padu membantu para korban, berusaha membangun kembali tata kehidupan seperti semula. Pada musibah kepemimpinan, bukan empati yang berdatangan, tapi sumpah serapah yang dilontarkan. Tidak sedikit, pengguna media sosial menulis hujatan, sindiran pada status diberandanya sebagai bentuk kekecewaan atas apa yang telah terjadi di kabupaten Subang.

Sumpah serapah pun diteriakan, tidak sedikit orang malah mengutuk atas tindakan melawan norma hukum yang dilakukan para pemimpinnya. Ditengah geliatnya gerakan pemberantasan korupsi, namun hal ini tidak dicerminkan oleh para pemimpin. Tidak salah, jika sumpah serapah serta kutukan itu dilontarkan kepada pelaku rasuah.

Para pelaku rasuah jelas akan mendapatkan ganjarannya. Namun musibah ini tidak akan pulih dengan sekedar mengutuk dengan sumpah serapah. Yang perlu mendapat pertolongan adalah warga masyarakat subang, yaitu membangunkan kembali kesadaran untuk terus percaya akan masa depan Subang yang gemilang. Tidak lantas bersedih hati atau bahkan apatis dengan program-program yang tengah dicanangkan oleh pemerintah daerah.

Barang tentu, hal ini tidak bisa dilakukan oleh segelintir orang atau kelompok. Sama halnya dengan bencana alam, semua pihak dari berbagai komponen saling bahu membahu memberikan perhatian penuh untuk ikut serta membangun dan membangkitkan semangat hidup kedepan. Begitupun dengan kondisi saat ini yang masih simpang siur akan nasib pengganti kepemimpinan.

Dengan kondisi saat ini seharusnya bukan berita kekacawuan yang terus disebarkan, namun angin segarlah yang perlu dihembuskan. Berita-berita pembangunan dan gerakan gerakan persatuanlah yang perlu dikabarkan.

Semua komponen masyarakat baik organisasi massa, unsur kepemudaan, mahasiswa, akademik serta buruh dan petani sudah saatnya ikut serta bergotong royong mempersiapkan subang yang akan datang. Mempersiapkan calon-calon pemimpin yang mampu mengamalkan semboyan kabupaten Subang yaitu Karya Utama Satya Nagara, bukan sejahtera untuk kepentingan pribadi dan dirinya sendiri.

 

--------

Subang, 1 Juni 2016

"Jelang tengah malam masih saja menyeruput sisa kopi hitam di gelas kembang-kembang. Tak ada alunan musik, apalagi bisik diskusi. yang ada hanya lirihan Cinta"
Share on Google Plus

About fasya elsyahid