Karena Kegembiraan itu Perlu Dilatih

[caption id="attachment_989" align="alignleft" width="327"]p_20160726_090353.jpg Seni Bergembira. - Salah satu koleksi buku di Perpusda Subang. [/caption]

Sejenak mampir ke perpustakaan daerah Subang, sekedar untuk mengembalikan buku yang telah jatuh tempo masa peminjamannya. Dua buku yang belum kelar dibaca itu, terpaksa harus dibalikin, rencananya mau perpanjang peminjamannya, tapi pas di meja pelayanan, malah niat mau cari buku lainnya saja yang mau dibaca.

Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan masuk ruangan perpustakaan yaitu melihat-lihat koleksi buku, coba mencari beberapa judul buku yang dianggap menarik. Baru baca beberapa judul buku, eh aku tertarik dengan buku yang judulnya Seni Bergembiara Cara Nabi Meredam Gelisah Hati, karya Karim Abdul Ghaffar dengan penerbit Zaman (2011).

Dalam pengantarnya penulis merangkai kata-kata dengan menarik, penulis mencoba memaparkan selintas tentang judul bukunya. Menurutnya “Kegembiraan adalah seni yang dapat dipelajari”. Kalo dilihat dari apa yang penulis curahkan dalam bukunya, makna seni disini adalah sebuah cara, atau tindakan-tindakan, aktivitas yang  membuat diri kita bisa bergembira atau bahagia.

Melalui fasyaelsyahid.com, aku coba mengurai intisari dari kata pengantarnya, karena hal ini menjadi awal kita memaknai bagaimana merasakan kebahagian. Karim Abdul Ghaffar menjelaskan modal utama untuk meraih kebahagian adalah kekuatan atau kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak mudah goyah oleh guncangan-guncangan, tidak gentar oleh peristiwa-peritiwa dan tidak pernah sibuk memikirkan hal-hal kecil dan sepele.

Penulis pun mengungkapkan bahwa diantara musuh utama kegembiraan adalah wawasan yang sempit, pandangan yang picik, dan egoisme. Orang yang wawasan sempit digambarkan bahwa ia senantiasa melihat seluruh alam ini seperti apa yang mereka alami. Mereka tidak pernah memikirkan orang lain, tidak pernah hidup untuk orang lain, dan tidak pernah memikirkan sekitarnya. Ini bukan berarti kita tidak memperhatikan diri kita.

Hal yang mendasar agar mampu memporeleh kebahagiaan yaitu dengan cara mengendalikan dan menjaga pikiran agar tidak terpecah. Pikiran liar yang tidak terkendali menurut penulis mampu mampu menghidupkan kembali luka lama, dan juga membisikian masa depan yang mencekam. Akibatnya tubuh menjadi gemetar, kepribadian goyah, dan persaan terbakar. Agar hal ini tidak terjadi maka kita sangat perlu mampu mengendalikan pikiran kita kearah yang baik dan perbuatan yang bermanfaat.

Hal mendasar lainnya yaitu kita harus mampu menempatkan kehidupan sesuai dengan porsi dan tempatnya. Penulis mengingatkan kita bahwa kehidupan ini adalah permainan yang harus diwaspadai. Kehidupan dunia ini palsu, janjinya hanya fatamorgana.

Ia pun menegaskan bahwa kegembiraan tidak dating begitu saja, namun harus diusahakan dan dipenuhi semua yang menjadi prasyaratnya. Untuk mencapai kebahagian kita harus menahan dari hal-hal yang tak berguna. Kehidupan dunia ini sebenarnya tidak berhak membuat kita bermuram durja, pesimis, dan lemah.

Penulis menerangkan ada dua kata kunci yang mampu membuat kita tetap merasa bahagia tatkala dihadapi musibah, yakni Sabar dan Rida. Tidak semudah menulisnya dan mengatakannya, sabar tatkala menghadapi musibah sesuatu yang memang berat dirasakan. Namun jika ia seorang muslim tentunya jiwanya akan berbeda karena jiwa seorang muslim telah dirancang untuk bisa bersabar sehingga ia bisa mengontrol kata-kata, gerakan, juga bisa menerima keadaan dengan hati yang tenang dan khusyuk. Sabar itu lebih rendah tingkatannya daripada rida. Rida adalah manakala seseorang rela dengan apapun yang akan terjadi sebelum menimpa, sedangkan sabar dilakukan setelah musibah terjadi.

Di buku ini penulis pun menuliskan bagaimana cara praktis menepis kegelisahan dan kesedihan yang kita hadapi ,yaitu

  1. Jadilah sahabat bagi diri anda sendiri

  2. Timbanglah kegelisahan anda

  3. Kenali dunia lebih jauh

  4. Beristigfarlah

  5. Ingatlah Allah

  6. Dirikanlah Solat

  7. Berdoa

  8. Katakanlah berulang-ulang : Aku Rida, Wahai Tuhanku!”

  9. Bertakwa kepada Allah

  10. Yakin kepada Allah

  11. Ingatlah Kematian

  12. Bandingkan satu musibah dengan musibah yang lain

  13. Jangan Lemah !

  14. Ungkaplah Kegelisahan Anda.


Untuk lebih rincin dan jelasnya anda bisa baca bukunya, karena aku aja baru baca kata pengantarnya. Hehehe.

 

*Pojok Perpusda Subang, 26 Juli 2016.
Share on Google Plus

About fasya elsyahid