Dua Agustus, Hari Kita Jadian, Nembak dengan Kata-kata Ijab Qabul

[caption id="attachment_1060" align="alignleft" width="280"]DSC00505.JPG 
Pembacaan Ijab Qobul (02/08/2014)

 

[/caption]

Saat itu, kondisinya belum begitu sehat, baru sebulan kepulangannya dari rumah sakit. Lumayan lama ia terbaring tidak sadarkan diri karena sakit yang diderita.

Stroke yang dialaminya membuatnya tidak kuasa mengangkat dan menggerakan badan bagian kanan. Untuk bertuturpun harus menarik napas dalam-dalam. Terbata-bata dalam bicaranya.

Selama ia terbaring di rumah sakit, aku tidak sempat menjenguknya, belum mampu hadir melihat kondisinya, tidak turut mendoakan langsung dihadapannya. Saat itu, dari jauh hanya doa dan harapan yang kupanjatkan pada-Nya agar diberi kesembuhan dan kesehatan baginya, serta ketenangan dan ketabahan bagi keluarganya.

Dalam perjumpaan yang kedua kalinya ini, aku melihat wajahnya masih tampak pucat karena sakit, namun ia berusaha untuk berseri-seri, garis senyum terlihat seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Namun kali ini ia lebih banyak diam, menyembunyikan rasa sakit. Sorot matanya seakan ikut bicara, menyambut baik kehadiranku yang datang bersama keluarga.

Bisa dikatakan kedatangan kami ini adalah telat, karena kami sekeluarga baru sempat menjenguknya setelah ia kembali ke rumah, itupun karena waktu yang memang masih kondisi liburan lebaran.

Hari ini tanggal 2 Agustus, merupakan perjumpaan antar kedua keluarga, saling mengenal satu sama lainnya. Empat bulan sebelumnya, diperjumpaan pertama dengannya, aku dikenalkan dengan seorang anak gadis, anak perempuannya yang nomor dua. Perempuan yang aku lihat hanya 1 menit.

Kini, dihadapan semua anggota keluarga, aku nyatakan ketertarikan pada anak gadisnya dan ingin meminangnya. Semua yang hadirpun ikut mengaminkan, turut mendoakan agar semua yang diputuskan adalah hal terbaik dari-Nya.

Namun siapa sangka, setelah saling berunding dan berbincang-bincang, disepakati tidak ada khitbah atau lamaran. Hari ini, semua menyetujui untuk langsung dilaksanakan pernikahan. Siapa hati yang tidak berdebar-debar, hendak datang untuk melamar namun pernikahan yang akan dilaksanakan.

“Bismillah,” hanya itu yang kubacakan dalam hati. Abahku mendekatiku “Siap untuk menikah kan?” tanya abah, kemudian ia memberikanku beberapa lembar uang. “Ini untuk maskawinnya,” sambil menggenggam tanganku.

Kemudian suasana pun jadi khidmat, Abah bersama salah satu keluarganya mempersiapkan prosesi akad nikah. Lantunan ayat suci al-quran menjadi pembuka acara, khutbah singkat akad nikahpun disampaikan. Dan kini aku tengah berhadapan dengannya, meraih tangan kanannya yang masih terasa lemah.

Dari mulutnya terbacakan lafadz basmallah, dengan perlahan-lahan dan berat. Dengan hati yang bergemuruh ku dengarkan kata perkata yang keluar darinya. Disebutlah namaku olehnya, tubuhku langsung merasa merinding, dalam hati terus berdoa dalam bismillah.

Dalam kata-katanya, ia menyebut nama lengkap anak gadisnya. Wanita yang saat ini kunanti-nanti untuk menjadi bidadari yang akan selalu berada disisiku. Terbayang sudah indahnya hidup bersamanya, gadis solehah, anak yang selalu berbakti pada orang tua. Bersamanya aku akan membangun dan mendayung biduk  cinta, mengarungi samudera kehidupam dalam berumah tangga.

Hati semakin yakin, diri semakin kuat, ku lafadzkan qabulku padanya “Saya terima nikah dan kawinnya dengan putri bapak yang bernama Furqoniyah Fasuha dengan maskawin tersebut dibayar tunai,”.

Semua yang menyaksikanpun mengucap kata “Sah”.

 

*Mengenang masa-masa Indah, Saat meminangnya pada 2 Agustus 2014*

 
Share on Google Plus

About fasya elsyahid