Sama-sama Makelar

Matahari baru saja meninggi, langitpun menyibakan tirai gelapnya, nampak awan berwana jingga merona. Jalan mulai dipadati kendaraan, gang-gang kecil ramai oleh lalu lalang orang berjalan, sesekali kendaraan bermotor ikut lewat yang menghentikan orang berjalan.

Aku masih seperti biasa, berkaos dan memakai sarungan memilih untuk duduk diteras rumah, menikmati kopi dan gorengan panas buatan si cinta. Koran kemarin yang dibeli siang, aku baca kembali, sekedar menyimak lagi siapa tahu menemukan persepsi baru dari sebuah berita.

Sesekali ku seruput kopi hitam panas, hangat terasa dimulut, lumayan pahit dirasa karena tanpa dicampur gula biar tidak kena diabetes. Disusul segigit pisang goreng  yang terasa renyah di gigit, serenyah hidup tanpa hutang, tiadalagi gigitan para rentenir dan debtcollector.

Lagi-lagi berita nasional yang membahas soal pudarnya nasionalisme, berita ekonomi masih berkutat bahas nasib negara yang lagi rumit bayar hutang, berita pertanian menyoal masalah import, berita pejabat tidak lepas membas masalah kasus korupsi dan rebutan berkoalisi untuk mencuri kursi kekuasaan.

Berita yang membuatku menarik untuk disimak soal rencana kenaikan harga rokok yang melambung tinggi selangit. Curhatan para perokok dituliskannya dalam berita itu, sampai dengan solusi alternative lain untuk tetap bisa rokoan jika harga rokok tetap naik.

“Kang ada telpon nih,” istriku mendadak muncul disebelahku.

“Dari siapa ?” tanyaku sambil mengambil handphone yang disodarkannya

“Kayaknya dari kang Sugeng” timpalnya sambil ngeloyor masuk kedalam rumah

“Hallo, Assalamualaikum..!” Sapaku memulai percakapan

“Ada apa nih kang Sugeng, pagi-pagi tumben dah nelpon?” sekedar basi-basi.

“Gak kok, masih nyantai, lagi ngopi sambil baca berita. Kabar akang sendiri gimana? masih sibuk jadi calo proposal di gedung Dewan?”

“Ha..ha..ha..ha…terus kapan jadi tukang bikin anggarannya?”

“Lagian akang ngapain juga jadi kutu loncat, masih muda kok sukanya jualan suara.. ha..ha..ha,”

Lama juga Sugeng berbicara, ia banyak bahas tentang politik dan kondisi di Senayan, Dia juga bahas tentang proyek, menawaran kerjasama soal proposal. Sugeng memang memiliki koneksi kebeberapa kementerian dan menjajikan serta penawaran pencairannya.

“Wah, ga salah nih potongannya sampe 70%. kebangetan banget loe mangkasnya. kasihan yang nerimanya lah. Tobat loe geng!”

“ha..ha..ha.. gak gitu juga lah geng. kamu sama saya beda lahan dan beda cara main lah”

 

“Gak..gak.. saya ga tertarik main gituan ah, kasihan ntar yang nerimanya. daripada main jadi makelar proposal, mending jadi mekelar jual tanah aja, ha..ha.ha”

“Ya udah ntar ketemu di Kota aja, sekalian saya mau ketemu sama pembeli tanah nih.”

“Oke. Wassalamualaikum” timpalku.

Ku ambil gelas kopi, ku teguk sampai habis. Sedikit hampasnya ikut masuk ke mulut. Pahit memang terasa, tapi pahitnya kopi hitam tidaklah sepahit kenyataan kondisi negeri ini.  Dibawanya gelas kopi, bergegas masuk rumah, dan ku tutup pula pintu rumah.

 

*Pojok Rumah Sambil Menghabiskan Sepotong Fried Chicken
Share on Google Plus

About fasya elsyahid