Negeri Simba (Anak Singa)

Inilah ceritera tentang negeri Simba, negeri yang memeliki tiga dataran, dataran pantai dengan lautnya, dataran rendah dengan perkebunanannya, juga dataran tinggi dengan hasil buminya. Kami namai negeri ini dengan nama Simba. karena terinspirasi oleh tontonan masa kecil yaitu sebuah film tentang anak singa yang bernama Simba.

Akhirnya untuk mewakili sebuah tradisi yang ada di negeri ini maka dinamailah tanah leluhur ini dengan nama Simba yang berarti singa. Sebenarnya ini bertolak belakang dengan kondisi alam, mana ada singa di sebuah dataran yang hijau, penuh dengan hutan hijau dan pegunungan. Tapi tak mengapalah, untuk kegagahan maka dinamailah Simba.

Negeri Simba dipimpin oleh Raja. Raja yang dipilih oleh seluruh warga yang menepati negeri Simba. Berbeda dengan kebanyakan negeri lain yang dipimpin oleh Raja. Di negeri Simba Raja tidak harus dari keturunan kerajaan. Tidak harus memiliki darah dari seorang baginda. Disini, mereka yang ingin menjadi Raja boleh dari semua kalangan, asal nanti jika menjadi Raja, mau bagi-bagi kekuasaan dengan konco-konconya.

Terkisahlah seorang anak petani desa yang awalnya seorang penggawa raja terpilih menjadi baginda Raja, memimpin negeri Simba. Dengan perawakan badan yang tinggi, tegap dalam berjalan, seakan menandakan ketegasan, wajah penuh senyumnya pun seakan menyebarkan banyak harapan.

Jadi teringat kata-kata sorang motivator bahwa seorang pemimpin itu ia yang mampu memberikan harapan, memberikan mimpi dan mampu berkata manis, bekerja untuk solusi serta perbuatannya adalah melakukan semua visi dan misi.

Raja di negeri Simba seperti raja-raja era feodal, padahal jaman kini sudah kian berubah. di negeri ini upeti menjadi sebuah ciri, Raja memiliki banyak selir akan menaikan gengsi. Prestasi bukan diukur sebarapa kaya negeri, sebarapa sejahtera penduduk negeri. Prestasi itu seberapa banyak kekuasaan dan harta yang dimiliki.

Jadilah negeri Simba, sebuah daerah tanpa prestasi, minim pembangunan, hampir saja menjadi negeri yang tebilang bangkrut, padahal sang Raja berlimpah ruah dengan harta.

Penduduknya kini semakin menjerit, harapan pada pemimpinnya pun ikut sirna seiring pilu yang melilit. Semaking gamang jalan hidup kedepan, hanya mampu sekedar bertahan hidup. Pupus semua angan akan sebuah kemakmuran, mati harapan. Sekedar bisa makan hidup, beranak cucu sudah menjadi kesyukuran.

Upeti di sani-sini, apapun yang dilakukan untuk berurusan dengan para demang dan mantri harus bayar upeti. Jangankan warga kecil, konco-konconya pun harus setor upeti khusus, tersendiri persembahan untuk sang Raja.

Padahal zaman sudah berubah, namun di tempat ini perubahan hanya dijadikan wacana dan alat, aplikasinya masih menggunakan sistem lama penganut feodalisme. Kelas pejabat atau bangsawan yang banyak harta, merekalah yang berkuasa. Memeras dan bagi-bagi upeti sudah hal yang biasa. berteriak saja sekedar menegur dianggapnya provokasi. Tawaranya hanya dua, diam dapat bagian, atau terus teriak, mati membusuk.
Share on Google Plus

About fasya elsyahid