'Karedok Muhammadiyah'



Beberapa hari ini, entah kenapa makan siang selalu ketagihan makan karedok. Jelang siang hari, rasanya lidah ini ingin bersensansi dengan karedok. Bumbu kacang yang diaduk dengan sayuran seperti toge, kol, kacang panjang, terong, ketimun, dan daun kemangi, kemudian ditaburi goreng bawang ini sangat menggugah selera makan siang, dan tidak lengkap rasanya jika menyantap karedok tidak dengan kerupuk.

Untuk bisa santap siang menu karedok, ternyata harus rela antri dan menunggu, pasalnya tukang karedok, tempat istri saya beli,  pembelinya cukup banyak. Pernah di lain waktu, kebutulan pas membeli masih sepi, tetapi tidak lama kemudian sudah mulai lagi dikerubuti para pembeli.


Tidak heran juga sih, dengan tukang karedok ini, kelihatan memang sudah memiliki banyak pembeli dan pelanggan. Sejak awal pun saya dengan istri sempat berprasangka, ini tukang, kayaknya banyak pembeli, karena dilapaknya sampai ada tiga orang yang bantu-bantu.



Ada dua wanita dan satu laki-laki. Di roda tempat menyajikan sayuran dan buah-buahan ada seorang yang tugasnya menyiapkan bahan sayuran, dan 2 oran lagi berada di meja kecil yang diatasnya sudah terdapat 2 buah cobek besar, keduanya tengah bersemangat ‘ngulek’ bumbu. Di meja ini pun ternyata tersaji makanan lainnya, seperti kerupuk, telor asin, lontong dan juga sayuran matang untuk membuat pecel.

'Ngulek'; Tukang Karedok
Di Jl. Kartawigenda Gang Pelabuhan, Subang, tukang karedok ini mangkal. Konon katanya tukang karedok ini sudah banyak yang tahu dan lebih dikenal dengan sebutan 'karedok Muhammadiyah', karena memang mangkalnya tepat berada di depan Sekolah Muhammadiyah, Subang.
 
Tidak hanya menyajikan karedok, disinipun bisa membeli pecel dan rujak. Harganya pun relative ekonomis hanya Rp.8000,-, Jika ingin porsinya lebih banyak, bisa juga pesan dengan dengan menentukan harga, misalnya, “sepuluh ribu” atau bahkan lebih.

Sudah pernah nyoba nyicip karedok disini? Jika belum, silakan mampir! Siapa tahu di tempat ini rasa makanannya cocok di lidah. Dan mudah-mudahan pas mampir lagi tidak kebagian antri.  😉


Share on Google Plus

About fasya elsyahid