Uang Baru & Simbol Kesejahteraan


Uang Baru kini tengah menjadi trending di lini maya, beberapa postingan sosial media dan berita sejak dua hari kemarin selalu ramai dengan share komentar dan opini persoalan uang baru yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

Uang baru yang dikeluakan Bank Indonesia pada akhir tahun 2016

Beberapa media Massa, membahas tentang gambar-gambar pada uang baru, beberapa akun sosial media dan web pun malah membahas juga tentang kemiripin uang baru Indonesia dengan uang miliknya negara Tiongkok. Bahkan informasi ini dikait-kaitkan dengan anggapan bahwa pemerintah era Presiden Jokowi tengah berkiblat pada negeri China.

Saat ini tidak habis-habisnya perdebatan antara pro dan kontra kepada pemerintah, dan semakin diperuncing persoalannya tentang hubungan Indonesia dengan Tiongkok-China. Isu santernya bahwa Indonesia akan di IndoChina kan.
Isu Netizen - Uang baru Rupiah yang dianggap mirip dengan Uang Yuan Tiongkok-China


Entah anggapan itu datangnya darimana, karena saya pribadi belum mampu menelusuri kebenaran itu datangnya dari mana, yang saya fahami memang negera kita ini tengah menjajaki kerjasama dengan Tiongkok, soal ekonomi dan pembangunan Infrastruktur.

Kembali kepada pembahasan uang baru di negara kita. Bank Indonesia, jelang akhir tahun mengeluarkan uang baru. Saya pikir memang tepat apa yang dilakukan oleh Bank Indonesia, seakan mengatakan nanti awal 2017 Indonesia sudah memiliki uang baru, dengan corak yang berbeda. Uang seakan menjadi gambaran semangat baru dalam perekonomian bangsa Indonesia.

Tetapi persoalannya, kenapa masih banyak orang membuang energinya untuk sekedar mempersoalkan corak pada uang baru, toh, mau tidak mau, uang yang keluar saat ini adalah alat tukar atau transaksi jual beli yang resmi dan diakui oleh pemerintah.

Persoalan uang adalah persoalan nilai, tidak penting bagaimana rupanya, yang terpenting adalah ukuran nilainya. Ya, memang beberapa pengamat mengatakan uang pun selain memiliki nilai bisa juga menjadi simbol kejayaan dan kekuasaan. 

Jadi ingat masa-masa sekolah dulu, ketika pelajaran sejarah, dimana corak uang atau alat jual beli menjadi simbol atau gambaran tentang pemerintahan. Bahkan, salah satu buku yang mengulas tentang sejarah yakni buku API Sejarah karangan Ahmad Mansyur suryanegara, menggambarkan uang atau alat jual beli menjadi corak ideologi penguasa.

Kita bisa menilai dan melihat ideologi apa yang dipegang oleh penguasa dengan melihat uang yang pernah beredar saat itu, atau bahkan berafiliasi dengan penguasa mana saja jika ditinjau dari jangkauan penggunaan uangnya itu sendiri.

Tapi tetap soal uang adalah soal nilai, dan penguasa atau pemerintah mampu meningkat nilai uang ini, kita ketahui saat ini lagi-lagi mata uang kita belum mampu begitu kuat menyaingi nilai mata uang lain seperti dolar.
Tugas pemerintah bukan sekedar mengeluarkan uang baru, tetapi membangun laju perekonomian bangsa. Percuma saja ada uang baru, jika saja hanya dikuasai segelintir orang atau kelompok. Uang adalah salah satu bukti bentuk kepemilikan, semakin banyak uang, semakin banyak yang bisa dimiliki, tetapi percuma saja, banyak uang jika nilai mata uangnya masih rendah.

Semakin banyak uang, semakin banyak kemungkinan untuk bertransaksi, namun semakin rendah kepemilikan uang bisa jadi semakin sedikit melakukan transaski, karena Uang pun saat ini menjadi ukuran kesejahteraan.

Salah seorang kawan saya berkomentar soal pemerintah mengularkan uang baru,
“Aku tidak butuh uang baru, aku ingin kesejahteraan, aku butuh pekerjaan untuk menghasilkan uang!”


Uang Baru Rupiah yang dikeluarkan Bank Indonesia pada Akhir tahun 2016





Share on Google Plus

About fasya elsyahid