Berhati-hatilah di Bilik Suara



Besok, tanggal 15 Februari 2015, menjadi hari penentu bagi warga masyarakat di 101 daerah, seluruh Indonesia, dalam menentukan pemimpinnya untuk lima tahun kedepan. Hanya butuh beberapa menit untuk memilih salah satu calon pemimpin di balik bilik suara, namun akan berdampak pada nasib lima tahun kedepan dalam urusan hajat hidup banyak orang, termasuk diri kita sendiri.

Setiap pemilu tentunya harus menjadi pelajaran bagi kita dalam memilih pemimpin. Pemilu yang lalu tentunya harus menjadi hikmah bagi kita, dalam menentukan pilihan pada sosok calon pemimpin yang barada di kertas suara. 

Suara hak pilih kita, jangan digunakan sekedar asal saja, karena akan menjadi tanggung jawab kita. Suara hak pilih adalah suara hati, suara kejernihan berpikir, bukan suara bisikan dan bayaran. Bagaimana kita bisa merasakan keindahan demokrasi, namun kita sebagai pemilik suara, masih menampikan kejernihan berpikir, mematikan ketulusan hati, dan abai dalam menentukan pilihan.


Ragu saja kita memilih, maka berhati-hatilah, rasa ragu akan membawa kepada kehancuran. Memilih dan menentukan pemimpin butuh keteguhan hati dan kemantapan diri. Itu karenanya dalam Islam, ada istilah berbaiat kepada pemimpinnya. Ini untuk meyakinkan diri, memantapkan diri, untuk mau diatur oleh pemimpinnya.


Memilih pemimpin itu diibaratkan kita seperti memilih pasangan hidup, yang butuh pemikiran jernih, percaya diri, dan mantap. Memilih pemimpin bukan karena adanya insiden tertentu, namun murni karena kemantapan hidup. Sering kali orang tua kita menasehati kita, jika hendak meminang pasangan hidup kita, yaitu “awas ada godaan dari yang lain”. Darimana godaan itu timbul, itu karena hembusan bisikan dari Setan, yang selalu menunjukan jalan yang menyimpang. 

Begitupun dengan memilih pemimpin yang ada, tentunya di ruang bilik suara, apakah setan akan diam saja. Tidak! Setan akan berusaha membisikan dan menghembuskan kepada keraguan, dijauhkannya kita dari kemantapan memilih pemimpin yang akan membawa keberkahan dan kesejahteraan pada warganya.

Karenanya, kita sudah seharusnya, ketika hendak memasuki bilik suara mengucapkan Ta’udz, berlindung kepada Alloh dari godaan dan bisikan setan, dan ketika memilih, mencoblos, hendaklah ucapkan Basmalah, dengan berharap dan berdoa, semoga pemimpin yang kita pilih senantiasa diberi hidayah dan kekuatan untuk membangun daerahnya, dan amanah, dan membawa kedamaian, serta menuntun kita dekat dengan Alloh. Insya Alloh, Amiin.


Jika saja Pemilu ini dianggap sekedar main-main saja, maka kita akan dipermainkan oleh pemimpin yang kita pilih. 

“Selamat masa tenang, dan selamat memilih pemimpin..!”
Share on Google Plus

About fasya elsyahid