Ketika Pelajar Subang Menolak Valentine Day



Apa yang kamu ingat dengan tanggal 14 februari?. Seperti menjadi lumrah sebagian orang mengenal 14 februari menjadi hari perayaan Kasih Sayang, atau lebih dikenal dengan Valentine Day, dan pada tulisan ini saya singkat saja dengan istilah V’day.

Peringatan V’day, hampir dirayakan diseluruh dunia. Hari ini seakan menjadi istimewa, tidak sedikit produk-produk tertentu ikut mengiklan V’day, event-event pun banyak digelar untuk merayakan dan memeriahkan V’day. Bar, hotel, swalayan, komunitas, sebagiannya menggelar acara khusus yang bertajuk kasih sayang.

Entah bagaimana menggambarkan dan mendefiniskan hari kasih sayang yang jatuh pada hari ini, yang konon lebih  mendekatkan diri pada hal-hal kemaksiatan. Dan hal inilah yang membuat beberapa elemen masyarakat menolak kehadiran perayaan V’day.


V’day sudah dianggap sesuatu yang mengarah pada perbuatan tercela dan kemaksiatan dengan korbannya adalah para ABG dan remaja naggung. Karenanya untuk melindungi generasi muda khususnya anak remaja sekolah, Gubernur Jawa Barat dan Disdik pun mengeluarkan surat edaran tentang larangan perayaan hari Kasih Sayang, Valentine Day.

Jadi teringat masa-masa dulu, sekitar tahun 2005an, yang pernah ikut terlibat terjun dalam aksi tolak perayaan Valentine di Subang Kota. Kita undang para pelajar Subang, dalam pelatihan dan seminar, selama tiga hari, membahas tentang persoalan moral pelajar di Subang.



Tiba dua hari sebelum hari H, dilemparkan isu tentang hari Valentine. Keseruan diskusipun terjadi, para pelajar mengungkapkan sendiri persoalan-persoalan dalam merayakan Valentine Day dan juga budaya-budayanya yang sering dilakukan oleh para remaja. Dan Pada akhirnya bersepakat menolak semua kegiatan yang bertajuk Valentine Day.

Satu hari sebelum hari H, para pelajar pun turun aksi, menyuarakan suaranya, dan menyerukan penolakannya atas semua berbagai macam bentuk perayaan V’day. Aksi ini pun dilakukan dengan long march mengitari Subang Kota.

Tiba-tiba masa pelajar ini berhenti, di sebuah toko yang menjual berbagai macam asesoris. Ternyata toko ini dibranding dengan dekorasi serba berwarna pink, dan menawarkan harga diskon, dalam program peringatan V’day.

Massa pelajar berteriak, mengutuk apa yang dilakukan oleh toko terserbut dan dianggap ikut serta merusak moral pelajar, karenanya diminta untuk mencabut dan menurunkan semua dekorasi yang berbau valentine. Pemilik toko pun panik, dengan segara mencabut semua dekorasi.

Karena dianggap telah kooperatif, massa pun melanjutkan long march nya, namun tiba-tiba kembali berhenti di depan toko syawalan. Kordinator lapangan menggiring massa ke halaman parkirnya, kemudian meneriakan ujaran-ujaran kutukan, karena swalayan ini telah ikut serta merusak moral pelajar dengan budaya-budaya barat untuk ikut memperingati V’day.

Swalayan ini ikut serta dalam uforia V’Day, dan menjual produk-produk tertentu dengan harga khusus, dalam rangka V’Day. Dekorasi Pinker V’Day pun menghiasi Swalayan ini. Para pelajar berang, meminta semua bentuk atribut V’Day di copot, dan mengancam akan masuk sendiri untuk mencabut semua aksesoris yang ada. Pihak swalayan akhirnya, meyakinkan akan mencabut dan melepas sendiri, namun setelah toko tutup. Jadi dipastikan esok harinya sudah tidak ada lagi atribut V’Day.

Dan inilah yang selalu saya ingat tentang tanggal 14 februari, hari Valentine Day. Bersama-sama ikut dalam barisan pelajar menolak budaya Valentine Day. Tapi sayang, beberapa tahun ini sangat jarang sekali melihat  dan mendengar kabar pelajar Subang yang aksi turun ke jalan meneriakan suara hatinya, khususnya tentang menolak  V’Day. Atau mungkin pelajar saat ini sudah punya cara tersendiri untuk aksi menangkal semua bentuk perayaan V’Day.


“Setiap jaman ada orangnya, dan setiap orang ada jamannya”, Beda jamanku, beda juga jamanmu. 

Selamat hari Valentine!, eh maksudnya Selamat Menolak Hari Valentine..!



Share on Google Plus

About fasya elsyahid